Breaking News:

WhatsApp Ajak Pedagang Pasar Tradisional Perluas Penjualan Memanfaatkan Sarana Digital

WhatsApp membekali pedagang pasar tradisional tentang pemanfaatan sarana digital seperti WhatsApp Business melalui program Pasar JuWAra.

Penulis: Singgih Wahyu N
Editor: Singgih Wahyu N
IST
Nyimas, pedagang pakaian di Pasar Kranggan, Yogyakarta, menunjukkan kode QR akun WhatsApp Business miliknya. Ia memanfaatkan media digital itu untuk memperluas jangkauan penjualannya. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pedagang pasar tradisional yang umumnya bergantung pada penjualan tatap muka menjadi salah satu pihak paling terdampak akibat pandemi Covid-19 ini. Kondisi itu turut jadi perhatian perusahaan digital WhatsApp.

Bersama UKMIndonesia.id, WhatsApp menggagas Program Pasar JuWAra, untuk untuk membekali para pedagang pasar tradisional dengan pengetahuan dan memanfaatkan sarana digital seperti WhatsApp Business. Program ini sudah menyentuh 1.243 pedagang dari 66 pasar tradisional yang tersebar di 20 kota Indonesia.

“Saat ini, kita tidak harus memiliki komputer untuk berjualan secara daring. Cukup dengan aplikasi yang mudah digunakan seperti WhatsApp Business sudah bisa membantu para pedagang berkembang bahkan di tengah pandemi,” kata Dewi Meisari, Project Leader UKMIndonesia.id, dalam keterangan tertulis yang diterima TribunJogja.com, Jumat (28/5/2021).

Program ini dirancang agar pedagang yang telah menerima pelatihan dapat mengajari rekan-rekan pedagang di sekitar mereka tentang cara menggunakan WhatsApp Business untuk meningkatkan penjualan mereka.

“WhatsApp sangat peduli terhadap UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Kami berharap Program Pasar JuWAra kami dengan UKM Indonesia dapat mempercepat pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi,” kata Esther Samboh, Manajer Kebijakan Publik WhatsApp untuk Indonesia.

Di Yogyakarta, Program Pasar JuWAra telah diadakan di Pasar Pujokusuman, Pasar XT Square, Pasar Beringharjo, Pasar Ngasem, Pasar Branta, and Pasar Colombo. Pelatihan ini juga diadakan di kota sekitarnya, seperti Bantul, di Pasar Desa Potorono dan Pasar Desa Bangunharjo.

Satu di antara pedagang peserta program WhatsApp Business adalah Nyimas (41). Nyimas menjual berbagai jenis pakaian di kios kecil yang ia kontrak di Pasar Kranggan, Yogyakarta. Saat pandemi melanda tahun lalu, penjualannya menurun drastis akibat jumlah pengunjung pasar yang juga berkurang secara signifikan.

“Saya rugi besar, penjualan anjlok, lalu saya diajak oleh Ibu Wiwit, salah satu fasilitator dari UKM Indonesia, untuk mempelajari WhatsApp Business,” ungkapnya.

Sebelum mengetahui tentang pelatihan Pasar JuWAra, ia hanya bergantung pada pelanggan yang berkunjung langsung ke tokonya. Metode ini sudah ia jalani sejak pertama merintis bisnis di usia 30 tahun.

Lewat pelatihan dalam program Pasar JuWAra, Nyimas belajar cara mengambil foto produk yang menarik bagi pembeli, menggunakan berbagai fitur yang tersedia di WhatsApp Business, serta cara efisien melayani dan bertransaksi dengan pelanggan melalui WhatsApp.

“Saya sangat suka menggunakan fitur Salam, karena sangat membantu. Pelanggan yang menghubungi saya melalui chat akan langsung tahu kalau saya jualan baju. Mereka juga bisa melihat baju apa saja yang saya jual lewat fitur Katalog. Pelanggan jadi mudah mencari baju yang mereka inginkan. Bahkan, mereka juga bisa langsung mengetahui detail dan harga barang, kemudian langsung konfirmasi daftar pesanan mereka,” ujarnya.

WhatsApp meluncurkan aplikasi gratis WhatsApp Business yang khusus didesain untuk membantu para pelaku UMKM pada 2018 lalu. Aplikasi ini menawarkan fitur-fitur seperti Balasan Cepat, Katalog, Keranjang, dan Pesan Otomatis untuk membantu pelaku UMKM memberikan layanan pelanggan yang lebih baik dan memudahkan transaksi mereka. Saat ini, ada lebih dari 175 juta orang berkirim pesan ke akun WhatsApp Business setiap harinya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved