Breaking News:

Feature

Tim Mahasiswa UKDW Ciptakan Gelang Pendeteksi Covid-19

TIM mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKDW Yogyakarta mengusulkan suatu alat pendeteksi Covid-19 bernama Co-Hand.

Editor: Agus Wahyu
ISTIMEWA/DOK. UKDW
INOVASI - Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengusulkan suatu alat pendeteksi Covid-19 bernama ‘Co-Hand’. 

Mahasiswa UKDW Manfaatkan Teknologi Kontrol Ketaatan OTG Selama Pandemi

Tim mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mengusulkan suatu alat pendeteksi Covid-19 bernama ‘Co-Hand’. Alat ini berbentuk gelang dengan bahan wrist band, dilengkapi dengan sensor suhu, lampu indikasi, dan sensor yang dapat mendeteksi suhu tubuh serta jarak dengan orang sekitar.

RANCANGAN gelang Co-Hand karya Syska Finalia Moreng, Shalommita Pranatantri, Kevin Alvaro Adianto, Gracia Zerlinda Puspita, dan Ruth Wira Satya Utama Sinagaini juga berhasilmendapatkan dana hibah dalamProgram Kreativitas Mahasiswa (PKM) Skema Gagasan Futuristik Konstruktif.

Syska Finalia Moreng selaku ketua tim menjelaskan, inovasi ini diharapkan menjadi solusi untuk menekan angka penyebaran virus Covid-19 dan membantu pemerintah mengontrol aktivitas pasien orang tanpa gejala (OTG). Gelang Co-Hand akan menjamin bahwa OTG akan melakukan isolasi mandiri secara tertib sehingga penyebaran Covid-19 dapat diturunkan secara drastis.

“Penanganan terhadap Covid-19 menjadi salah satu tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yaitu diperolehnya kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang baik (SDGs ke-3). Kesehatan masyarakat tidak akan terjamin selama pandemi Covid-19 belum berakhir,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

Ada 2 faktor utama yang menyebabkan pandemi Covid-19 tidak segera berakhir. Pertama, masih banyaknya masyarakat yang kurang mengindahkan protokol kesehatan ketika mereka di area umum.

Kedua, masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya rentan menjadi carrier Covid-19 atau biasa disebut orang tanpa gejala (OTG). “Sehingga ia merasa aman saja untuk melakukan kontak dengan banyak orang,” urai Syska.

Lebih lanjut Syska menerangkan Gelang Co-Hand memiliki dua fungsi utama yaitu mendeteksi apakah OTG masih positif Covid-19 melalui denyut nadi di pergelangan tangan, suhu tubuh, dan embusan napasnya. Gelang ini akan mengirim informasi ke pusat data penanggulangan Covid.

Gelang ini juga mendeteksi apakah OTG melakukan isolasi mandiri dan protokol Kesehatan. “Deteksi isolasi mandiri dilakukan gelang Co-Hand dengan cara mendeteksi apakah pemakai berada di radius kurang dari 50 meter dari lokasi isolasi mandiri. Jika pemakai melewati batas tersebut, gelang Co-Hand akan mengeluarkan bunyi untuk memperingatkan pemakai. Selain itu, gelang Co-Hand akan mengirimkan geolokasi pemakai ke pusat data penanggulangan Covid karena gelang ini didukung dengan global positioning system (GPS),” jelasnya.

Selain itu ada deteksi kepatuhan untuk menjauhi kerumunan. Gelang Co-Hand mendeteksi apakah pemakai berada dalam jarak kurang dari 2meter dengan orang lain selama lebih dari 5 detik. Deteksi dilakukan melalui laser pengukur jarak dan suhu.

“Apabila terjadi pelanggaran, gelang Co-Hand akan mengeluarkan bunyi yang terdengar oleh orang di sekitar pemakai sehingga kerumunan akan menjauhinya,” ujarnya.

Terbebas
Drs Jong Jek Siang MSc, selaku dosen pembimbing sekaligus Ketua Prodi Sistem Informasi UKDW, menyebutkan, bahwa apabila gelang Co-Hand berhasil dibuat oleh pemerintah, diyakini Indonesia akan segera terbebas dari pandemi. “Saya mengapresiasi usaha keras kelima mahasiswa pengusul. Terlebih di masa pandemi yang mengharuskan semua pengerjaan dilakukan secara daring masih dapat berprestasi di tingkat nasional,” terangnya. (rls/ord)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Jumat (28 Mei 2021) halaman 05.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved