Breaking News:

Feature

Penjelajahan Wisata Hutan Pinus Dlingo

Adanya kafe alam ini ternyata mampu menyedot pengunjung, meskipun masih diberlakukan pembatasan.

Editor: Agus Wahyu
Istimewa
Panggung terbuka dan Kedai Kopi Becici 

Selain itu, para pengunjung juga diwajibkan memenuhi protokol kesehatan selama berada di dalam area cafe. "Kami berusaha agar pengunjung nyaman dan merasa aman. Karenanya, setiap orang yang berkunjung, kami minta taat pada protokol kesehatan,” imbuhnya.

Tidak jauh berbeda, Kedai Kopi Natadamar. Hanya saja kedai yang satu ini berada di area Hutan Pinus Sari Mangunan.

Pengelola menyiapkan berbagai varian kopi, seperti V60, Vietnam Drip, coffee original, tubruk, dan varian kopi lainnya. Sedangkan espresso based tersedia cappucino, latte, dan americano.

Memasuki area ini mata pengunjung sudah dimanjakan dengan penataan tempat yang unik. Melewati tangga yang disusun dari bebatuan, lampu-lampu turut menjadi bumbu romantis tiap momen.

Panggung hiburan di dua lokasi ini dibangun membelakangi pemandangan landscape Yogyakarta. Sehingga, secara otomatis keindahan pemandangan itu menjadi latar belakang panggung yang menarik.

Kedua tempat menikmati kopi itu berada dalam satu rute wisata di sepanjang Hutan Pinus Dlingo.
Pengunjung tidak perlu khawatir terkait kuliner. Seiring tumbuhnya wisata di Hutan Pinus, ternyata diikuti juga dengan pertumbuhan tempat kuliner di sekitar lokasi.

Beberapa di antaranya, Tiwul Ayu Dan Ayam Goreng Mbok Sum, Ayam Ingkung Mangunan Baru, Resto Olahan Ndeso, dan RM WanaJaya. Hampir di setiap tempat kuliner itu menyajikan menu-menu unik dan khas.

Berkunjung ke Mangunan, spot wisata lain yang dapat dikunjungi dalam satu rute perjalanan di antaranya adalah Hutan Pinus Pengger, Puncak Becici, Pintu Langit, Pinus Asri, Pinus Sari, Seribu Batu, Watu Goyang, Kebun Buah Mangunan, dan Bukit Panguk.

Sementara itu masih banyak obyek lain yang memiliki ke-unikan masing-masing. Bahkan, setiap titik mampu menghadirkan pesona sesuai dengan karakternya, seperti Watu Mabur Camp yang menjadi salah satu spot favorit berkemah. Sebab, setiap pagi pengunjung yang camping akan disuguhi dengan pemandangan indah berupa matahari terbit dan gugusan Pegunungan Seribu.

Gandi mengatakan, sebagian besar obyek wisata itu berada dibawah naungan Koperasi Notowono. Sehingga sesuai regulasi, saat ini diberlakukan tarif retribusi yang sama yakni sebesar Rp5 ribu tiap pengunjung kecuali Bukit Panguk yang diberlakukan harga tiket sebesar Rp10 ribu. Menurutnya, tarif retribusi itu sudah termasuk asuransi tiap wisatawan.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved