Buah Bibir

BUAH BIBIR : Uray Dewi Dalami Keragaman Budaya Lewat Pariwisata

Lima tahun menimba ilmu pariwisata di sebuah universitas di Bali ternyata membuka jalan Uray Dewi untuk banyak belajar tentang keragaman budaya.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Uray Dewi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lima tahun menimba ilmu pariwisata di sebuah universitas di Bali ternyata membuka jalan Uray Dewi untuk banyak belajar tentang keragaman budaya.

“Dari kuliah itu, saya jadi lebih bisa menghargai banyak orang dan juga tidak mempermasalahan perbedaan. Apalagi pas kuliah di Bali, bisa sekalian memahami langsung kebudayaan dari turis yang datang,” katanya.

Ia mencontohkan, cara berbicara orang dari Eropa akan berbeda dengan orang Asia maupun Amerika.

Begitupula dengan sesama orang Asia yang ternyata memiliki perbedaan.

Baca juga: BUAH BIBIR - Vivia Rifati Nayotami Gali Potensi Lewat Dunia Film

“Saya juga belajar makanan dari negara lain. Misalnya, kalau di Indonesia banyak menggunakan rempah, tapi kalau di Eropa tidak,” terangnya lebih lanjut.

Ilmu pariwisata yang ia tempuh itu juga menjadi bekal dirinya untuk bekerja di bidang yang berbeda.

Selama kuliah di Bali, Uray juga berusaha menyeimbangkan dunia akademik dengan bekerja.

“Pas di Bali, saya juga freelance jadi tim Wedding Organizer (WO) dan Event Organizer (EO). Jadi, sekalian bisa mengimplementasikan studi saya di kerjaan,” tambahnya.

Kini, Uray sudah tidak berkutat di dunia pariwisata dan menjadi seorang public relations di Sleman City Hall (SCH).

Menurutnya, saat pandemi kegiatan kepariwisataan di Bali terhenti dan dia perlu mencari hal lain untuk dikerjakan.

“Kebetulan, ada kesempatan untuk jadi PR SCH, ya segera saya ambil saja. Memang agak berbeda sih dengan apa yang saya pelajari, tapi konsepnya sama,” tutur Uray.

Baca juga: BUAH BIBIR : Masayu Rin Irianti Ikut Serta dalam Pasar Ramadan Notoyudan

Di akhir tahun 2020, ia resmi menjadi seorang PR.

Ini adalah kali kedua dirinya menyambangi Yogyakarta lantaran pernah menempuh studi vokasi di DIY pada tahun 2012.

“Sudah enggak kaget dengan kehidupan di DIY, kan sudah pernah hidup di sini,” ucapnya tertawa.

Disinggung mengenai perbedaan dunia kehumasan dan kepariwisataan, Uray mengungkapkan tidak ada perbedaan yang mencolok. Konsep kerjanya cukup sama.

Dasar-dasar kepariwisataan tetap ada yang bisa diimplementasikan ke ranah kehumasan.

Hanya saja, secara garis besar, pariwisata memikirkan imej daerah ataupun negara. Sementara, kehumasan cenderung memikirkan branding untuk satu korporasi.

“Sama enaknya kog, bedanya ya lingkup kerjanya jadi lebih spesifik saja,” tambahnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved