Breaking News:

Pembunuhan bocah di Temanggung

Kriminolog UGM Soal Kasus Dukun di Temanggung, Jika Mengancam Nyawa Seharusnya Dihindari

Dalam wawancaranya pria yang akrab disapa Prapto itu mengatakan, sampai saat ini masih banyak masyarakat ketika menjumpai ada anggota keluarga

Penulis: Miftahul Huda
Editor: Kurniatul Hidayah
IST
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Terbongkarnya kasus penganiayaan terhadap bocah berusia tujuh tahun di Dusun Paponan, Desa Bejen, Kecamatan Bejen Kabupaten Temanggung mengundang keprihatinan kriminolog Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Suprapto.

Dalam wawancaranya pria yang akrab disapa Prapto itu mengatakan, sampai saat ini masih banyak masyarakat ketika menjumpai ada anggota keluarga yang berperilaku aneh misalnya nakal, suka marah, berbicara sendiri, dan lain-lain dianggap kerasukan makhluk halus.

Padahal, lanjut Suprapto, sangat mungkin ada kelainan di tubuh anak, misalnya kelainan saraf, atau cidera karena pernah jatuh dan trauma terhadap peristiwa tertentu.

Baca juga: Mengarah ke Pelecehan, Ketua DPRD Gunungkidul Dapat Perlakuan Tak Sopan dari Wali Kelas Anaknya

"Termasuk kasus yang menimpa anak Temanggung ini. Jadi sampai sekarang masih banyak anggota keluarga yang belum memahami itu," katanya, kepada Tribun Jogja, Rabu (19/5/2021)

Ia menjelaskan, tidak banyak orang tua yang paham terkait beberapa kemungkinan tersebut, sehingga para orang tua lebih memilih mendatangi dukun daripada meminta solusi melalui ahli pengobatan medis.

"Jika dukunnya mengobati dengan cara yang masuk akal sih tidak apa, tapi jika sampai mengancam nyawa seseorang maka seharusnya dihindari," jelasnya.

Prapto menegaskan, mengusir roh halus dengan cara direndam hingga tubuh korban lemah dan tak sadarkan diri jelas tidak wajar.

Lebih lanjut Dosen Sosiologi UGM ini menuturkan, saat ini banyak anak menjadi korban atas ulah orang tua mereka sendiri karena beberapa sebab. 

Hal pertama, lanjut dia, banyak orang tua yang tidak paham betul dengan empat fungsi keluarga yakni edukasi, perlindungan, ekonomi, dan reproduksi.

Kedua, orang tua maupun anggota keluarga lainnya tidak memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, serta ketiga, tingkat rasionalitasnya rendah. 

Baca juga: Supermodel Amerika Bella Hadid Ikut Aksi Turun ke Jalan, Punya Garis Keturunan Ningrat Palestina

"Keempat, tingkat maturity (kematangan) berpikirnya rendah. Akibatnya ketika ada hal yang tidak teratasi dengan mudah seperti kenakalan anak, sakit yang belum diketemukan, maka larinya jika tidak menjustifikasi gangguan makhluk halus maka arahnya adalah santet," tambahnya.

Sebagai contoh, lanjut dia, kasus praktik perdukunan yang menimpa satu keluarga di Kabupaten Temanggung dan berujung maut bagi A gadis berusia tujuh tahun belum lama ini.

Akibat tindakan itu, menurut Prapto tersangka dapat dipidana karena telah melakukan tindakan lalai yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang dalam hal ini pelaku dapat dijerat pasal 359 KUHP.

"Setidaknya dapat dikategorikan melakukan tindakan lalai yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang," pungkasnya. (hda)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved