Breaking News:

Tiadakan Tradisi Gunungan, Keraton Yogyakarta Bagikan Ubo Rampe kepada Abdi Dalem

Terimbas pandemi Covid-19, Hajad Dalem Garebeg Syawal yang biasanya ditandai dengan arak-arakan gunungan di hari pertama Lebaran kini ditiadakan.

TribunJogja.com/Yuwantoro Winduajie
GAREBEK SYAWAL - Ubo rampe gunungan keraton saat hendak diantar ke Kompleks Kepatihan dan Pura Pakualaman 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yuwantoro Winduajie

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keraton Yogyakarta kembali menggelar tradisi perayaan Hari Raya Idul Fitri dengan cara berbeda.

Terimbas pandemi Covid-19, Hajad Dalem Garebeg Syawal yang biasanya ditandai dengan arak-arakan gunungan di hari pertama Lebaran kini ditiadakan.

Namun, Raja Keraton Yogyakara, Sri Sultan Hamengku Buwono X tetap memberikan sedekah raja melalui ubo rampe dalam bentuk rengginang yang dibagikan ke seluruh abdi dalem keraton.

Sebagian kecil ubo rampe juga dikirimkan ke Kompleks Kepatihan dan Pura Pakualaman.

"Gunungan itu tidak dirangkai dalam bentuk gunung tapi hanya ditancep di gedog. Ubo rampe berupa hasil bumi diwujudkan dalam bentuk rengginang yang dirangkai seperti bunga," terang Wakil Pengageng Parintah Ageng yang membidangi Sumber Daya Manusia (SDM), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudha Hadiningrat saat ditemui di Kompleks Keraton, Kamis (13/5/2021).

Ubo rampe gunungan keraton saat hendak diantar ke Kompleks Kepatihan dan Pura Pakualaman
Ubo rampe gunungan keraton saat hendak diantar ke Kompleks Kepatihan dan Pura Pakualaman (TRIBUN JOGJA / YUWANTORO WINDUAJIE)

Keputusan untuk meniadakan gunungan diambil karena prosesi ini selalu menimbulkan kerumunan.

Pasalnya, warga biasa merayah gunungan beramai-ramai sehingga dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19.

"Jadi lebih baik ditiadakan dan hanya dibagi kepada abdi dalem," terangnya.

"Garebeg adalah sedekah raja. Ini disimbolkan sedekah raja tapi yang diberikan hanya abdi dalem. Biasanya seluruh masyarakat," tambahnya.

Selain gunungan, tradisi pengikutnya seperti Ngabekten juga ditiadakan lagi karena rawan menimbulkan kerumunan masa.

Meski mengalami banyak penyesuaian, penyelenggaraan tradisi tersebut tidak mengurangi esensi yang terkandung di dalamnya.

Menurut KPH Yudha, makna dalam tradisi adat Garebeg Syawal ini adalah ungkapan syukur atas pemberian dari yang maha kuasa serta doa mengharapkan keselamatan dan kesejahteraan Keraton Yogyakarta.

"Sebelum dimulai upacara pada abdi dalem dan kiai mendoakan mohon bimbingan pada Allah supaya keraton tetap diberikan kesejahteraan, keamanan, dan tetap guyub rukun. Supaya semua itu bisa berjalan dengan baik," paparnya. (tro)

Penulis: Yuwantoro Winduajie
Editor: Joko Widiyarso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved