Breaking News:

Bupati Gunungkidul Imbau Syawalan Cukup Bersama Keluarga Inti

Umat Muslim pada Kamis (13/05/2021) ini merayakan Idulfitri 1442 Hijriah setelah berpuasa selama sebulan penuh. Momen Lebaran pun tak lepas

TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Bupati Gunungkidul Sunaryanta 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Umat Muslim pada Kamis (13/05/2021) ini merayakan Idulfitri 1442 Hijriah setelah berpuasa selama sebulan penuh.

Momen Lebaran pun tak lepas dari tradisi seperti Syawalan hingga halal bihalal.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta menyatakan kegiatan Syawalan atau silahturahmi tidak dilarang.

Namun, masyarakat tetap diminta memperhatikan protokol kesehatan (prokes).

Baca juga: Rincian Sebaran 105 Kasus Baru Covid-19 di Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulonprogo & Gunungkidul

"Syawalan atau Halalbihalal tetap dibatasi pesertanya, sesuai anjuran pemerintah," katanya lewat keterangan hari ini.

Ia lebih menyarankan agar silahturahmi atau ajang bermaaf-maafan hanya melibatkan keluarga inti di rumah.

Sedangkan sanak keluarga jumlahnya tetap dibatasi setidaknya 5 orang.

Berkaitan dengan para perantau yang sudah terlanjur datang, Sunaryanta mengakui tak bisa membendung. Sebab pihaknya sudah berusaha meminimalisir pemudik lewat penyekatan.

Terlepas dari itu, ia tetap berharap para pendatang ini mengikuti anjuran untuk melakukan isolasi mandiri (isoman). Termasuk memastikan kondisi kesehatannya selama berada di kampung halaman.

"Pastikan kondisi sehat supaya aman bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya," ujar Sunaryanta.

Baca juga: Ini Sosok Istri Ujang Preman Pensiun, Dulu Dikenal Sebagai Bu Guru Yola di Sinetron Dunia terbalik

Terpisah, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Gunungkidul Arif Gunadi menyarankan warga menghindari kontak langsung saat silahturahmi Lebaran.

Seperti bersalaman hingga cium pipi atau cium tangan.

Ia menjelaskan, larangan itu bukan berarti pemerintah tak menghargai tradisi. Melainkan mempertimbangkan kondisi kesehatan warganya di masa pandemi COVID-19 ini.

"Kita tentu tak ingin kejadian di India terjadi di sini, karena di sana awalnya juga dari kegiatan keagamaan," jelas Arif.

Menurutnya, akan lebih baik jika masyarakat mengandalkan perangkat komunikasi untuk bersilaturahmi. Ia berpendapat cara tersebut tidak akan mengurangi nilai dari tradisi di masyarakat saat Lebaran. (alx)

Penulis: Alexander Aprita
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved