Breaking News:

Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY

Moderasi Beragama Dalam Relasi Islam dan Negara

Umat Islam diberikan kebebasan untuk berijtihad secara politik, sesuai dengan kesiapan dan modal sosial masyarakatnya.

Editor: ribut raharjo
Moderasi Beragama Dalam Relasi Islam dan Negara
Istimewa
Oleh: Prof Dr KH Abdul Mustaqim MAg, Direktur PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Pengasuh PP LSQ Ar-Rohmah Bantul

Oleh: Prof Dr KH Abdul Mustaqim MAg, Direktur PPs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Pengasuh PP LSQ Ar-Rohmah Bantul

TRIBUNJOGJA.COM - Dalam konteks relasi Islam dan negara, juga sikap moderasi, kita telah sepakat Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Alquran tidak ada ayat yang secara tegas menyebut bahwa bentuk negara harus Islam secara formal. Prinsipnya adalah bagaimana negara itu mampu mencerminkan keamanan (baladan âminâ) (QS. Ibrahim [14]: 35-37) dan kemakmuran baldatun warabbun ghafur (QS. Saba’ [34]:15).

Umat Islam diberikan kebebasan untuk berijtihad secara politik, sesuai dengan kesiapan dan modal sosial masyarakatnya.

Indonesia, menurut hemat penulis, merupakan contoh terbaik dalam menerapkan konsep wasathiyah Islam. Indonesia bukan negara Islam secara formal, tapi juga bukan negara sekuler. Indonesia adalah dar al-salam (negara damai). Dasar negaranya adalah Pancasila sebagai basis filosofi dalam berbangsa dan bernegara. Pancasila bukan agama, tetapi Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun.

Pancasila sebagai ijtihad politik dari para founding fathers bangsa Indonesia telah disepakati oleh semua elemen bangsa sebagai dasar Negara. Semua sila Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Alquran dan Sunah. Ia mampu menjadi katalisator untuk merawat kebhinnekaan. Itulah kecerdasan dan kearifan para pendiri bangsa ini. Oleh sebab itu, jika ada upaya untuk mengganti dasar Pancasila dengan sistem Khilafah Islamiyah, misalnya, berarti justru telah menggeser sikap moderasi (wasathiyah) Islam di Indonesia.

Sisi lain, moderasi dalam berinteraksi dengan Non-Muslim juga sangat penting. Sebab agama biasanya memiliki dua: soft side (sisi lemah lembut) dan hard side (sisi keras). Sisi lemah lembut, biasa ditujukan ke dalam kelompok untuk soliditas internal, sedang sisi kerasnya ditujukan di luar kelompoknya untuk proteksi (pertahanan). Jika dua sisi ini tidak dijaga dengan sikap moderasi, bisa menjadi prahara sosial.

Nah, sikap toleran adalah sikap moderasi antara paham ekstremisme dan sinkretisme. Toleransi bukanlah sinkretisme, yang cenderung menyamakan semua agama, yang digambarkan bagaikan sungai-sungai yang mengalir, namun akhirnya muaranya ke laut juga. Toleransi juga bukan sikap proselitisme yang berpandangan bahwa tidak ada yang sama diantara satu agama dengan yang lain. Dalam proselistisme yang ada yang satu benar dan yang lain salah, sehingga agama lain, sebaiknya bubar. Kita tidak menganut sinkretisme dan tidak pula menganut proselitisme, kita menganut sikap moderat, yaitu inklusif (terbuka) dan toleran.

Untuk itu, menjadi penting merenungkan kembali tentang hakikat agama sebagaimana dikemukakan Hans Kung, seorang teolog Swiss terkemuka, bahwa semua agama setuju dengan beberapa komitmen yang berkaitan dengan hubungan beragama dan etika dunia. Semua agama mengajarkan umatnya untuk menghindari kekerasan.Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk membunuh dan melukai umat lain.

Semua agama juga mengajarkan manusia untuk memiliki solidaritas, kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan. Konsep kejujuran juga diajarkan oleh setiap agama, semua agama menginginkan umatnya untuk bertindak dan berkata sesuai dengan kebenaran yang ada. Dan yang terakhir, semua agama mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan toleransi sesama umat manusia lain.

Para tokoh agama baik di level kecamatan, kabupaten provinsi, maupun pusat harus bisa menjadi teladan terbaik dalam bermoderasi agama, dan sekaligus sebagai katalisator dalam berdialog menyelesaikan ketegangan atau konflik antar umat beragama di masyarakat.

Para tokoh agama harus jujur dan tulus memberikan contoh terbaik dan khotbah atau pengajian yang moderat di masyarakat bahwa agama ini memang tidak semestinya menjadi pemicu dan pemacu konflik. Otentisitas keberagamaan kita adalah manakala kita telah mampu mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai. Semoga. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved