Mutiara Ramadan Kerja Sama LDNU DIY
Dai dan Peran Multitasking dalam Dakwah
Pada dasarnya, dakwah islamiyah dilakukan dengan maksud mendorong pembaharuan dan perubahan yang positif pada diri manusia.
Oleh: Aris Risdiana Ekasasmita, Pengurus LD PWNU DIY, Dosen UIN Sunan Kalijaga
TRIBUNJOGJA.COM - Di dalam Alquran disebutkan firman Allah swt., “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar” (QS. Ali Imran (3): 104)
Ayat di atas merupakan salah satu dasar sekaligus pendorong bagi umat Islam untuk aktif melakukan kegiatan dakwah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi komunikasi dan informasi, telah membawa dampak signifikan terhadap perubahan sendi-sendi etika umat Islam, tidak terkecuali pada bidang dakwah.
Pada dasarnya, dakwah islamiyah dilakukan dengan maksud mendorong pembaharuan dan perubahan yang positif pada diri manusia serta masyarakat. Dalam konteks ini, dakwah berperan mengaktifasi nilai-nilai positif islami ke dalam bentuk perilaku yang nyata.
Gerakan dakwah ke depan harus tetap berpegang pada metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw., yakni menyesuaikan materi dakwah sesuai kondisi objeknya. Memasuki milenium baru, dunia dakwah menghadapi tantangan baru yang sifatnya lebih sistematik.
Berbagai fenomena sosial dan perkembangan teknologi yang muncul dari kompleksitas budaya serta masyarakat yang heterogen telah menciptakan “pekerjaan rumah” yang lebih banyak dan lebih luas cakupannya bagi dai.
Jika dilihat dari satu sisi, kondisi tersebut membuat tingkat kesulitan dai dalam berdakwah semakin meningkat. Namun di sisi lain, fenomena tersebut dapat dipandang sebagai peluang atau sasaran dakwah yang sangat besar bagi dai. Hal ini menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi dunia dakwah. Tantangan tersebut akan mampu dihadapi dengan memperbaiki performa dai sebagai subjek dakwah utama.
Secara garis besar, terdapat tiga masalah klasik yang dapat dilihat dari sisi internal dai sebagai subjek dakwah, yakni; pertama, terjadinya penyempitan makna dakwah dalam sudut pandang dai. Masih banyak dai yang memiliki anggapan bahwa berdakwah cukup dilakukan dengan cara verbal. Akibatnya, tanpa disadari dai memasuki zona nyaman dan sering lupa atau kurang tertarik untuk mengeksplorasi cara dakwah yang lebih beragam.
Padahal, lahan dakwah merupakan lautan luas yang sebagian besar wilayahnya masih belum tersentuh secara maksimal. Di sini sangat diperlukan sikap open minded dan kesadaran terhadap konsep dakwah yang hakiki, di mana dakwah menjadi bagian dari spirit dan terpancar dalam berbagai bentuk interaksi dengan masyarakat luas.
Kedua, Stagnansi pengembangan ilmu yang dimiliki para dai. Alquran sebagai wahyu dari Allah merupakan sesuatu yang mutlak dan tidak berubah. Namun, interpretasi dan pemahaman manusia terhadap wahyu tersebut akan selalu berkembang sejalan perubahan zaman. Perkembangan interpretasi inilah yang harus difahami secara baik oleh dai sebagai bahan pengembangan materi dakwah. Dai yang tidak memahami hal ini akan terus melakukan pengulangan materi, bersikap kaku dan fanatik terhadap suatu hukum tanpa menganalisa kondisi masyarakat. Di sisi lain, budaya kritis yang dimiliki masyarakat masa kini telah menantang dai untuk mengembangkan cara dakwah lama ke dalam bentuk baru.
Ketiga, manajemen dakwah yang dilakukan oleh para dai masih bersifat konvensional. Secara mendasar, kendala dakwah sering timbul dari sisi internal. Kendala tersebut antara lain berupa kelemahan dalam sistem dakwah, kesalahan dalam metode serta kelemahan dalam sarana dakwah. Kelemahan tersebut timbul dari adanya cara pandang yang mengidentikkan dai dengan perseorangan, juga keyakinan sebagian orang bahwa pengelolaan dakwah melalui fungsi manajemen merupakan hal tabu karena dianggap sebagai komersialisasi dakwah.
Memasuki era teknologi informasi di mana sebagian besar kegiatan telah dapat dioperasikan lewat dunia digital, dai dan kegiatan dakwahnya juga dituntut untuk dapat beradaptasi dengan fenomena tersebut. Dai harus kembali mengingat bahwa sebenarnya ia memiliki multi peran yang sangat vital bagi objek dakwah. Beberapa peran tersebut adalah dai sebagai komunikator, dai sebagai konselor, serta dai sebagai problem solver. (*)