Aglomerasi DI Yogyakarta

Bikin Bingung, Ini Pengakuan Masyarakat di DI Yogyakarta Tentang Kebijakan Mudik Lokal Aglomerasi

Diketahui, Pemerintah Daerah (Pemda)  DIY menindaklanjuti keputusan pemerintah pusat terkait larangan mudik lokal di wilayah aglomerasi dengan

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
ILUSTRASI Pengendara sepeda motor yang melintas di Tugu Pal Putih Yogyakarta taat prokes dengan mengenakan masker, Minggu (24/1/2021) 

Dia memberikan alasan rasional, satuan tugas di ranah RT atau RW bisa saja tidak terlalu ketat untuk mengecek surat bebas Covid-19 masyarakat yang keluar masuk.

Mereka juga pasti akan menikmati waktu Lebaran bersama keluarga.

“Makanya saya bilang kan, kalau dilarang, larang saja sekalian. Mudik tidak boleh, silaturahmi tidak boleh. Biar enggak bingung kayak gini,” ungkapnya.

Ditanya apakah dirinya akan mudik, Puput menjawab dirinya akan kembali ke kampung halaman yang hanya 30 menit dari tempatnya sekarang.

Jika mengikuti peraturan, dia memang tidak diperbolehkan mudik. Akan tetapi, dia tetap ingin pulang bertemu sanak keluarga.

Puput sendiri meyakinkan akan menaati protokol kesehatan (prokes) selama berkumpul dengan keluarga.

“Yang pasti, saya tetap pakai masker kalau di luar, kalau ngomong jauh-jauhan saja. Memang cuma prokes yang bisa jadi tameng agar tidak kena corona,” tandasnya.

Baca juga: Kebutuhan Hiburan Meningkat, ShopeePay Berikan Cashback Hingga 90% di Codashop dan Google Play Store

Senada, Tya Kartika, seorang warga Sleman, DIY mengungkapkan hal yang sama. Kebijakan tes dan tidak boleh menginap mudik cenderung sulit untuk diawasi.

“Saya kira, ini pengawasannya yang bakal susah. Apa buktinya ada orang yang silaturahmi saja tapi tidak nginap? Sulit pengawasannya,” tuturnya.

Bagi Tya yang tahun ini tidak bisa mudik ke rumahnya di Surabaya, Jawa Timur, dia berniat mengunjungi rumah saudara di Nanggulan, Kulonprogo.

Akan tetapi, sepertinya dia akan mengurungkan niat lantaran kebijakan pemerintah yang berubah-ubah.

“Kebijakan tahun ini lebih membingungkan dari tahun kemarin. Ribet, katanya harus tes dulu, tidak boleh menginap. Semua kog serba dadakan,” ucap Tya.

Menurutnya, pemerintah memberikan keputusan yang belum siap. Dia menanyakan apabila dia telah melakukan tes bebas Covid-19, lantas siapa yang mau mengecek.

Sebab, keluarganya yang di DI Yogyakarta cenderung tidak berpikir hal seperti itu.

Dia juga tidak mau kehilangan uang hanya untuk tes.

“Jangan dadakan kalau bikin keputusan. Karena percuma, pasti banyak pelanggarnya,” tandas Tya. (ard)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved