Breaking News:

Penyekatan Mudik 2021

DPRD DIY Ungkap Penyekatan Pemudik Lewat Jaringan Telekomunikasi Lebih Efektif

Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta Pemda DIY semestinya tidak hanya menggunakan cara konvensional untuk menghalau para pemudik

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komisi A DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta Pemda DIY semestinya tidak hanya menggunakan cara konvensional untuk menghalau para pemudik.

Kalangan parlemen berharap ada pemanfaatan teknologi untuk monitoring seberapa banyak masyarakat luar daerah yang telah masuk ke DIY saat pelarangan mudik itu berlangsung.

Anggota Komisi A DPRD DIY Stevanus Christian Handoko mengatakan, sejak adanya pandemi Covid-19 kebijakan pelarangan mudik mulai muncul.

Baca juga: BREAKING NEWS: Muncul Klaster Baru di Bantul, 20 Orang Positif COVID-19

Terhitung sudah dua kali lebaran pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik tersebut.

Namun menurutnya dari tahun ke tahun pengawasan yang dilakukan masih bersifat konvensional.

"Yang kami harapkan pengawasan tidak hanya lewat metode konvensional saja karena juga sangat mudah adanya (penipuan) dokumen. Misal bawa surat bekerja dari Jogja padahal gak bekerja di Jogja," katanya, kepada Tribun Jogja, Jumat (7/5/2021).

Ia menambahkan, untuk pengawasan yang ketat dirinya berharap Pemda DIY memanfaatkan teknologi barcode, untuk memastikan antara dokumen yang dibawa dengan data dari Kominfo.

"Kalau ditambahkan dengan barcode yang namanya e-scan sangat powerful untuk mencegah orang-orang masuk ke DIY yang tidak tepat," imbuhnya.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Steve ini mengatakan Pemda DIY harus mengawali penggunaan program Locatoon Area Code (LAC) Cell ID, yakni sistem nomor unik yang umumnya digunakan untuk mengidentifikasi setiap Base transceiver station (BTS) dalam jaringan GSM atau dalam Location area code (LAC) 

Nantinya pemerintah hanya perlu meminta data dari setiap provider karena penyedia jaringan tersebut memiliki beberapa ratus BTS (sel) yang membentuk jaringan.

"LAC ini nanti dikomunikasikan dengan operator telkom. Jadi pergerakan manusia itu bisa terlacak, berapa banyak, asalnya dari mana itu akan ketahuan," jelasnya.

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi, Dalam 12 Jam Terakhir Aktivitas Vulkanik Terpantau Melandai

"Gak sekedar plat luar kota saja. Di Yogya banyak plat luar tapi memang domisilinya di Yogya. Nah, ini kalau HP kan kelihatan karena setiap bepergian orang selalu bawa HP," ujar Steve.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Rony Primanto Hari mengatakan, untuk saat ini teknologi yang dapat dimanfaatkan hanya berupa Jogja Pass.

Usulan dari kalangan legislatif tersebut masih akan dibicarakan dengan para pemangku kebijakan.

"Memang itu ide yang cukup bagus. Tapi sementara ini ya kami ada Jogja Pass. Usulan itu akan kami tindak lanjuti," pungkasnya. (hda)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved