Breaking News:

Yogyakarta

Dishub DIY Antisipasi adanya Angkutan Barang dan Angkutan Gelap yang Digunakan untuk Mudik

Ada sanksi tegas jika ditemukan adanya pelanggaran saat adanya larangan mudik lebaran, termasuk dengan potensi angkutan gelap atau pelat hitam.

Penulis: Santo Ari
Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti 

TRIBUNJOGJA.COM - Pengetatan dan larangan mudik dari pemerintah dapat membuat orang melakukan hal nekat.

Seperti di tahun sebelumnya, banyak angkutan barang digunakan untuk mengangkut orang secara sembunyi-sembunyi, termasuk dengan banyak ditemukannya angkutan gelap atau pelat hitam.

Hal itupun sudah diantisipasi oleh pemerintah DIY.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ni Made Panti Dwipanti Indrayanti, menjelaskan bahwa potensi adanya pelanggaran tersebut sudah dibahas di dalam forum.

"Masyarakat kan kalau sudah nekat ya nekat saja. Kita kan tidak mungkin membongkar semua angkutan barang. Tetapi sesuatu yang aneh pasti akan terlihat. Misal ada angkutan yang tidak wajar, akan terlihat," ujarnya Rabu (28/4/2021).

Baca juga: Pemda DIY : Tak Perlu Mudik, Cukup Saling Mengirimkan Parsel Agar Perekonomian Tetap Berjalan

Made menekankan bahwa petugas dapat melihat cara kendaraan dalam mengangkut barang, apakah di dalamnya terdapat orang yang bersembunyi atau tidak, hal itu akan terlihat jelas.

Kasus itu sempat terungkap di beberapa daerah, namun hal itu tidak terjadi di DIY.

Ia menegaskan bahwa akan ada sanksi tegas jika ditemukan adanya pelanggaran saat adanya larangan mudik lebaran, termasuk dengan potensi angkutan gelap atau pelat hitam.    

"Sekarang ini ketika ada orang masuk, apakah itu pelat hitam atau tidak, pasti akan ditanya keperluannya apa. Kalau keperluan dinas maka harus tunjukan surat dinasnya. Kalau sakit juga ada surat keterangan dari desa atau rumah sakit. Selain itu kan tidak bisa, dia harus putar balik," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ada potensi masyarakat beralasan untuk datang ke daerah lain untuk keperluan berobat.

"Tapi orang sakit hanya didampingi oleh satu orang, ibu hamil bisa didamping dua orang, jadi ada batasan, tidak bisa satu rombongan keluarga," tambahnya.( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved