Breaking News:

Inilah Tanda-tanda yang Muncul dari Tubuh Jika Kita Mengalami Gejala Keracunan Makanan

Karena ada banyak jenis organisme yang dapat menyebabkan keracunan makanan, gejala dan tingkat keparahannya dapat bervariasi.

Editor: Rina Eviana
click2houston.com
ilustrasi keracunan 

Diare adalah kondisi ketika penderitanya menjadi sering buang air besar (BAB), setidaknya lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan kondisi tinja yang encer.

Diare ini adalah gejala khas keracunan makanan.

Diare bisa terjadi karena peradangan membuat usus kurang efektif dalam menyerap kembali air dan cairan lain yang dikeluarkannya selama pencernaan.

Diare juga bisa disertai dengan gejala lain, seperti:

- Rasa tergesa-gesa untuk pergi ke kamar mandi

- Perut embung

- Kram perut

Karena Anda cenderung kehilangan lebih banyak cairan daripada biasanya, Anda berisiko mengalami dehidrasi saat diare.

Oleh karena itu, penting untuk tetap minum cairan agar tetap terhidrasi.

Selain air, menyesap makanan cair seperti kaldu dan sup dapat membantu memerangi dehidrasi dan memberi Anda sedikit energi jika Anda tidak dapat mentolerir makanan padat.

Untuk memeriksa apakah Anda mengalami dehidrasi, pantau warna urine Anda.

Jika urine Anda berwarna lebih gelap dari biasanya, itu mungkin mengindikasikan Anda mengalami dehidrasi yang harus diatasi.

3. Sakit kepala

Exploding Head Syndrome sakit kepala
Exploding Head Syndrome sakit kepala ()

Sakit kepala sangat umum terjadi.

Orang dapat mengalaminya karena berbagai alasan, termasuk stres, terlalu banyak minum alkohol, dehidrasi, dan kelelahan.

Baca juga: Bisa Dijajal di Rumah, Inilah Obat Alami Diare yang Minim Efek Samping

Karena keracunan makanan bisa membuat Anda lelah dan dehidrasi, itu juga bisa menyebabkan sakit kepala.

Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, dehidrasi akibat keracunan makanan dapat memengaruhi otak secara langsung, menyebabkannya kehilangan cairan, dan menyusut untuk sementara waktu.

Anda bisa sangat rentan mengalami sakit kepala jika memiliki keluhan muntah dan diare akibat keracunan makanan karena keduanya meningkatkan risiko dehidrasi.

4. Muntah

Wajar jika orang yang mengalami keracunan makanan sampai muntah.

Ini terjadi ketika otot perut dan diafragma berkontraksi dengan kuat, memaksa Anda untuk tanpa sadar mengeluarkan isi perut dan mengeluarkannya melalui mulut.

Muntah adalah mekanisme perlindungan yang terjadi saat tubuh Anda mencoba menyingkirkan organisme berbahaya atau racun yang dideteksi sebagai berbahaya.

Faktanya, keracunan makanan sering kali menyebabkan serangan awal muntah yang kuat.

Bagi beberapa orang, muntah bisa reda dengan cepat. Tapi, bagi beberapa orang lainnya, muntah akibat keracunan makanan bisa saja terus berlanjut.

Jika Anda terus menerus muntah dan tidak dapat menahan cairan, Anda harus mencari bantuan dokter atau apoteker untuk menghindari dehidrasi.

5. Umumnya merasa sakit

Seseorang yang mengalami keracunan makanan sering kali mengalami kehilangan nafsu makan dan gejala lain yang umum terjadi pada penyakit seperti kelelahan.

Kondisi ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh merespons untuk melawan infeksi yang telah menyerang tubuh.

Sebagai bagian dari respons ini, tubuh akan melepaskan pembawa pesan kimiawi yang disebut sitokin.

Sitokin memiliki banyak peran berbeda, tetapi yang penting adalah mengatur respons kekebalan tubuh terhadap infeksi.

Sitokin melakukan ini dengan memberi tahu sel kekebalan ke mana harus pergi dan bagaimana berperilaku.

Selain membantu tubuh melawan infeksi seperti keracunan makanan, sitokin mengirimkan sinyal ke otak dan menyebabkan banyak gejala yang biasanya dikaitkan dengan kondisi sakit, termasuk kehilangan nafsu makan, kelelahan, dan rasa nyeri.

Kumpulan gejala ini dapat mengakibatkan apa yang kadang-kadang disebut "perilaku sakit", saat seseorang menarik diri dari interaksi sosial, istirahat, dan berhenti makan.

"Perilaku sakit" adalah tanda bahwa tubuh mengalihkan perhatiannya dari proses tubuh lain seperti pencernaan untuk memprioritaskan melawan infeksi.

6. Demam

Seseorang dinyatakan demam jika suhu tubuhnya meningkat lebih tinggi dari kisaran normalnya, yakni 36–37 derajat Celcius.

Demam lazim terjadi pada banyak penyakit dan terjadi sebagai bagian dari pertahanan alami tubuh terhadap infeksi.

Zat penghasil demam yang disebut pirogen memicu kenaikan suhu. Pirogen ini dilepaskan oleh sistem kekebalan atau bakteri infeksius yang telah memasuki tubuh.

Pirogen menyebabkan demam dengan mengirimkan pesan yang mengelabui otak dengan berpikir bahwa tubuh lebih dingin dari itu. Reaksi ini membuat tubuh menghasilkan lebih banyak panas dan kehilangan lebih sedikit panas, sehingga terjadinya demam atau suhu tubuh naik.

Peningkatan suhu ini berguna untuk meningkatkan aktivitas sel darah putih, yang membantu Anda melawan infeksi.

7. Menggigil

Menggigil adalah respons alami tubuh terhadap berbagai kondisi yang menyebabkan otot tubuh berkontraksi secara cepat dan berulang untuk meningkatkan suhu tubuh atau menghasilkan panas.

Menggigil sering kali menyertai demam karena pirogen menipu tubuh untuk berpikir bahwa ia dingin dan perlu dipanaskan.

Demam dapat terjadi dengan berbagai penyakit, termasuk keracunan makanan, sehingga menggigil adalah salah satu gejala umumnya.

8. Kelemahan atau kelelahan

Kelemahan dan kelelahan adalah gejala lain dari keracunan makanan.

Gejala ini terjadi karena pelepasan pembawa pesan kimiawi yang disebut sitokin.

Selain itu, makan lebih sedikit karena kehilangan nafsu makan dapat membuat penderita keracunan makanan merasa lelah.

Baik kelemahan dan kelelahan adalah gejala "perilaku sakit" yang membantu tubuh beristirahat dan memprioritaskan untuk menjadi lebih baik.

Faktanya, kelemahan dan kelelahan juga bisa menjadi gejala dari banyak penyakit lainnya.

Jadi jika Anda merasa lemah atau lelah, hal terbaik yang harus dilakukan adalah istirahatkan tubuh.

9. Mual

Melansir Mayo Clinic, mual adalah perasaan tidak nyaman di perut dan rasa seperti ingin muntah.

Merasa mual dalam kasus keracunan makanan adalah hal yang wajar.

Mual juga dapat terjadi karena banyak alasan lain, termasuk migrain, mabuk perjalanan, dan makan terlalu banyak

Mual yang berhubungan dengan keracunan makanan biasanya muncul antara satu hingga delapan jam setelah makan.

Mual ini berfungsi sebagai sinyal peringatan untuk memberi tahu tubuh bahwa ia telah menelan sesuatu yang berpotensi berbahaya. Reaksi ini kemudian mungkin diperburuk oleh perlambatan gerakan usus yang terjadi ketika tubuh mencoba untuk membatasi racun di perut.

10. Nyeri otot

Otot bisa terasa sakit saat Anda terkena infeksi seperti keracunan makanan.

Kondisi ini bisa terjadi karena sistem kekebalan tubuh telah diaktifkan hingga menyebabkan peradangan.

Baca juga: 3 Penyebab Nyeri Otot dan Cara Mengatasinya

Selama proses ini, tubuh akan melepaskan histamin, bahan kimia yang membantu memperlebar pembuluh darah agar lebih banyak sel darah putih bisa melewati untuk melawan infeksi.

Histamin membantu meningkatkan aliran darah ke area tubuh yang terinfeksi.

Bersama dengan zat lain yang terlibat dalam respons imun, seperti sitokin, histamin dapat masuk ke bagian lain tubuh dan memicu reseptor rasa sakit.

Hal ini dapat membuat bagian tertentu dari tubuh lebih sensitif terhadap rasa sakit dan mengakibatkan nyeri tumpul yang sering dikaitkan dengan sakit.

Lantas, kapan sebaiknya pergi ke dokter dengan kecurigaan mengalami keracunan makan?

Melansir WebMD, jika Anda mengalami salah satu dari tanda atau gejala berikut, lebih baik segera dapatkan bantuan medis:

1. Muntah yang sering dan ketidakmampuan untuk menahan cairan atau minum

2. Muntahan atau BAB berdarah

3. Diare selama lebih dari tiga hari

4. Nyeri hebat atau kram perut yang parah

5. Suhu mulut lebih tinggi dari 38 derajat Celcius

6. Mengelami gejala dehidrasi, yakni rasa haus yang berlebihan, mulut kering, sedikit atau tidak ada buang air kecil, kelemahan parah, pusing, atau sakit kepala

7. Gejala neurologis seperti penglihatan kabur, kelemahan otot dan kesemutan pada lengan.(*)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved