Breaking News:

Yogyakarta

Seniman Yogyakarta Butuh Aksesbilitas Pemerintah dan Edukasi Audio Visual di Era Pandemi COVID-19

Transformasi pengemasan karya seni mau tidak mau harus dilakukan oleh para seniman saat pandemi COVID-19 melanda.

TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Suasana hangat Ngobrol Parlemen potret seniman Yogyakarta di tengah pandemi Covid-19, Senin (19/4/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi COVID-19 tak hanya memukul sektor ekonomi dan pariwisata saja, namun para pelaku seni dan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga turut terdampak akibat terbatasnya ruang gerak untuk menyalurkan kreatifitas mereka.

Dalam acara Ngobrol Parlemen Tribun Jogja, yang dihadiri Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Sumadi, anggota Komisi D DPRD DIY Syukron Arif Muttaqin, dan pelaku seni budaya Risang Yuwono kompelksitas persoalan para seniman dikupas habis.

Saat pemaparan, Risang mengatakan, transformasi pengemasan karya seni mau tidak mau harus dilakukan oleh para seniman saat pandemi COVID-19 melanda.

Sebagi sutradara dan penulis naskah di Ketoprak Tobong, ia mengakui sebelum adanha pandemi COVID-19, jadwal live ketoprak tobong bisa dua kali dalam satu minggu.

Baca juga: Seniman di Sleman Senang, Pertunjukan Seni Sudah Boleh Digelar

"Dulu seminggu bisa dua kali pentas. Tapi semenjak pandemi semua beralih ke audio visual. Semua bertahan sebisa mungkin," papar Risang, saat mengawali Ngobrol Parlemen di pendopo Dinas Kebudayaan DIY, Senin (19/4/2021) siang.

Peralihan dari seni pertunjukan secara langsung ke pertunjukan audio visual ini lah menurutnya menjadi pekerjaan rumah (PR) para pemangku kebijakan.

Karena menurut Risang, kebutuhan setiap seniman satu dengan yang lainnya berbeda.

Satu orang membutuhkan anggaran, satu seniman lainnya membutuhkan properti, sementara yang lainnya sudah ada bakat namun tidak memiliki ruang berekspresi kerena minimnya pengetahuan digitalisasi.

Oleh karena itu, dirinya meminta supaya pemerintah melakukan pendataan tehadap para seniman maupun para pemilik sanggar yang tersebar di DIY.

"Karena kebutuhan para seniman ini berbeda-beda. Misalnya di sanggar karawitan butuh seperangkat rebana, sementara sanggar yang lain butuhnya sound sistem, dan ada yang berbakat tapi sama sekali minim audio visual. Harus didata dulu, baru dibantu," terang Risang.

Halaman
1234
Penulis: Miftahul Huda
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved