Breaking News:

Nasional

Belajar dari Banjir NTT, Pakar Kebencanaan UGM : Pengelolaan DAS di Pulau Kecil Perlu Diperhatikan

Pemerintah perlu memperhatikan pengelolaan kondisi dan daya dukung DAS terhadap program pembangunan sebaran pemukiman.

ANTARA FOTO/HO/Dok BPBD
Sejumlah rumah dan kendaraan rusak akibat banjir bandang di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, NTT, Minggu (4/4/2021). Berdasarkan data BPBD Kabupaten Flores Timur sebanyak 23 warga meninggal dunia akibat banjir bandang yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada minggu dini hari. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pakar Kebencanaan UGM Prof. Dr. Suratman, M.Sc., mengatakan bencana banjir bandang yang melanda pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur seperti Lembata, Alor dan Flores Timur menandakan bahwa ketahanan bentang alam dan Daerah Aliran Sungai (DAS) di pulau kecil terdegradasi akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.

Oleh karena itu ia meminta pemerintah untuk memperhatikan pengelolaan kondisi dan daya dukung DAS terhadap program pembangunan sebaran pemukiman.

“Tipe DAS dengan pulau kecil itu harus khusus penanganannya. Terutama persebaran pola pemukiman. Jadi memang Indonesia perlu mulai berpikir mengelola das-das di pulau kecil. Ini peringatan untuk bangsa kita. Jadi banjir tidak hanya terjadi pada DAS besar tapi DAS kecil di pulau kecil apalagi terjadi anomali iklim seperti sekarang ini bisa mengerikan,” kata Suratman, Jumat (9/4/2021).

Menurut analisis Suratman, banjir bandang yang terjadi di NTT memang disebabkan oleh jumlah curah hujan akibat anomali iklim dengan siklon tropis seroja.

Baca juga: Polri Kerahkan Mobil Dapur Umum, Logistik, Kapal Hingga Perahu Karet Bantu Korban Banjir NTT

Namun banjir bandang juga tergantung dari sisi ketahanan bentang alam, kondisi hutan dan lereng di sekitar aliran sungai.

Apabila daya dukung semakin minim maka ketangguhan sungai dalam menahan jumlah curah hujan yang tinggi di hulu sungai akan menurun.

”Selain karena cuaca yang ekstrem, pulau-pulau kecil ini saya lihat jarak lintas sungai jaraknya pendek. Diperkirakan sekitar empat kilometer dari hulu hingga sampai ke laut, material vulkanik, dan datanya hutannya juga ada pengurangan,” papatnya.

Ia menjelaskan, bencana banjir bandang umumnya kejadiannya sangat mendadak.

Dengan lintas sungai yang pendek ini menurutnya waktu evakuasi saat terjadi sangat singkat sekali meski sudah ada peringatan dini.

Apalagi kejadian berlangsung di malam hari.

Halaman
12
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved