Breaking News:

pameran karya wayang

Hangno Hartono Tampilkan Sosok Kepemimpinan Lewat Pameran TMA

Wayang memiliki kisah yang menggambarkan karakter manusia. Perupa Hangno Hartono, memamerkan karya-karyanya menggunakan media wayang.

TRIBUN JOGJA/AGUS WAHYU
Di antara karya-karya wayang Hangno Hartono bertajuk 'Trilogi Mencari Arjuna' yang dipamerkan di Pendopo Asdrafi Yogyakarta, Senin-Kamis (05-09/04/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dunia pewayangan menjadi fokus karya perupa seni dan budaya, Hangno Hartono. Baginya, dunia wayang adalah gambaran hidup manusia di jagad dunia.

Mengusung konsep berbasis wayang, Hangno menghelat pameran bertajuk ‘Trilogi Mencari Arjuna (TMA)’ di Pendopo Asdrafi Jalan Sompilan Yogyakarta, Senin (05/04/2021). Dijelaskan Hangno, secara konsep, TMA menyoroti arti pentingnya kepemimpinan, maju mundurnya suatu bangsa dan negara tergantung peran pemimpinnya.

TMA mengedepankan sosok Arjuna yang mengpresentasikan sosok kepemimpinan, yang disebut Cakravartin atau melingkupi cakrawala. “Artinya seorang pemimpin yang mempunyai tugas dan fungsi bertangung jawab seluruih aspek kehidupan yang disebutnya Bumi Pati atau bersuamikan bumi dan Praja Pati yang bersuamikan rakyat. Praja Pati secara konsep ideologi modern, lebih dekat pada Sosialisme dan Bumi Pati lebih kekonsep Ekologi politik,” tuturnya.

Hangno menyebut, dalam lintasan sejarah konsep Cakravartin sudah diimplementasikan dalam sejarah kekuasaan Jawa, misalnya, pada gelar yang disandang Sultan Agung Hanyokrowati dan Sultan Agung Hanyokrokusuma. "Kedua gelar tersebut adalah eksplisit konsep Cakravartin, “ ucapnya.

“Misalnya juga dalam naskah Suryaraja karya Pangeran Sundoro atau Sultan Hamangkubuwono II, juga mendesain kepemimpinan Cakravartin tersebut untuk raja-raja Kesultanan Yogjakarta. Di sana terlihat nomenklatur gelar kerajawiannya, yakni Hamangkubuwono, Paku Alam, Mangkubumi sangat memuliakan Bumi dan Alam. Karena bumi adalah sumber kehidupan dan yang masih banyak dikenal adalah credo Sultan Hamangkubuwono IX ; Tahta Untuk Rakyat, inilah Cakravatin,” sambungnya.

Ia menilai, konsep kepemimpinan berdasar literatur klasik dan khasanah budaya sendiri penting untuk dimunculkan lagi, bahwa Jawa punya konsep kepemimpinan sendiri. Citra kepemimpinan ideal klasik ini, dianggapnya, penting sebagai bahan referensi dalam mencari figur seorang pemimpin.

“Nah, melihat arti pentingnya konsep kepemimpinan Cakravartin, pameran TMA ini dikonsepkan pameran keliling ke kantong-kantong budaya di Jawa. Ini yang akan menjadikan perbedaan dibanding konsep pameran lainnya,” lanjut Hangno.

Selain menampilkan karya-karya lukis berbasis tokoh pewayangan, pada gelaran TMA ini juga digelar dialog budaya. Ini sebagai media supaya karya-karya bisa bersuara dengan para audiens, juga terjadi komunikasi intelektual dan artistik,” tandasnya.

Ada sekitar 50-an karya, baik berupa karya lukis, batik, tatah sunging dan seni instalasi. “Karya ini karya tunggal. TMA ini sekaligus pameran pamit untuk melakukan Pameran Keliling, yang disebut Tirta Yatra,” ujar Hangno.
Pameran yang dikuratori Timmy Hartadi ini akan berlangsung hingga Kamis (09/04/2021). Sebelum pembukaan pameran, dilangsungkan deklarasi terbentuknya wadah Komunitas Wayang Kontemporer Indonesia. (*)

Penulis: Agus Wahyu
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved