Breaking News:

Pendidikan

Cerita Mahasiswa Rantau yang Bertahan di Yogyakarta Saat Lebaran, Menanggung Banyak Tugas

Mudik dilarang atau tidak, mereka tetap memperjuangkan skripsi di kota pelajar, tanpa mengenal perayaan kemenangan. 

Pixabay.com / Juraj Varga
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keputusan pelarangan mudik oleh pemerintah Indonesia di masa Lebaran selama 12 hari tidak mempengaruhi kondisi para mahasiswa perantauan yang bertahan di DI Yogyakarta.

Dilarang atau tidak, mereka tetap memperjuangkan skripsi di kota pelajar, tanpa mengenal perayaan kemenangan. 

“Enggak mudik deh. Soalnya kan juga lagi skripsi, jadi memilih tidak mudik dulu,” ungkap Defi Rahmadani kepada Tribunjogja.com, Sabtu (26/3/2021).

Defi merupakan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Baca juga: Pilih Mudik saat Lebaran, Sebagian Mahasiswa Tidak Ingin Bantah Permintaan Orang Tua

Di masa-masa terakhirnya menjadi mahasiswa ini, dia enggan menyia-nyiakan waktu untuk menyusun tugas akhir.

Maka, keputusannya untuk tidak mudik juga cukup bulat.

Hal ini lantaran rumah Defi berada di Lampung.

“Kalau mudik, jadi nanggung banget kan. Mending segera selesai di sini, maka bisa segera kembali ke rumah,” bebernya lagi.

Keputusan Defi untuk tinggal juga karena fasilitas di Yogyakarta yang menunjang pengerjaan skripsi cukup lengkap.

Halaman
123
Penulis: Ardhike Indah
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved