Breaking News:

Penyidik Kejaksaan Agung Kembali Periksa 5 Saksi Kasus Dugaan Korupsi BPJS Ketenagakerjaan

Penyidik Kejaksaan Agung terus bekerja untuk mencari tambahan bukti terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi BPJS Ketenagakerjaan

internet
logo BPJS Ketenagakerjaan 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Penyidik Kejaksaan Agung terus bekerja untuk mencari tambahan bukti terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi di BPJS Ketenagakerjaan.

Terbaru, penyidik memeriksa lima saksi .

Kelima saksi tersebut yakni LH selaku Direktur Investasi PT Schroder Investment Management Indonesia dan AC selaku Deputi Dirketur SPI BPJS Ketenagakerjaan periode tahun 2019.

Kemudian, FI selaku karyawan PT Panin Sekuritas, AA selaku asisten Deputi Bidang Pasar Saham PT Jamsostek TK, dan AA selaku karyawan PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia.

Saksi LH dan AC sudah diperiksa pada Rabu (17/3/2021) kemarin.

"Pemeriksaan saksi dilakukan guna mencari fakta hukum dan mengumpulkan alat bukti tentang perkara dugaan tindak pidana korupsi pada pengelolaan keuangan dan dana investasi di BPJS Ketenagakerjaan," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam keterangannya, Kamis (18/3/2021).

Baca juga: Kumpulkan Bukti Dugaan Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Penyidik Kejagung Kembali Periksa 3 Saksi

Baca juga: Penyidik Kejagung Periksa 7 Saksi Dugaan Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Salah Satunya Dewan Pengawas

Penyidikan kasus dugaan korupsi di BPJS Ketenagakerjaan ini telah dimulai Kejagung sejak 19 Januari 2021.

Kasus tersebut ditangani oleh penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) berdasarkan surat perintah penyidikan Nomor: Print-02/F.2/Fd.2/01/2021.

Sejumlah dokumen sudah sempat disita Kejagung dalam penggeledahan kantor pusat BPJS Ketenagakerjaan di Jakarta pada 18 Januari 2021.

Pemeriksaan saksi dimulai sejak 19 Januari 2021.

Dikutip dari Tribunnews, Kejagung memperkirakan ada potensi kerugian negara hingga Rp 20 triliun dalam perkara ini.

Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah menyatakan, nilai kerugian tersebut masih dianalisis perihal kemungkinan risiko bisnis.

"Kalau kerugian bisnis, apakah analisanya ketika di dalam investasi itu selemah itu sampai 3 tahun bisa merugi sampai Rp 20 triliun sekian. Sekalipun ini masih menurut dari orang keuangan masih potensi," kata Febrie di Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Kamis (11/2/2021). (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kasus Korupsi BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Periksa 5 Saksi

Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved