Breaking News:

Sengkarut Dinamika Politik Tanah Air, DPD RI: Sekadar Alat Berebut Kekuasaan

DPD RI memandang dinamika politik yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menjadi semakin absurd, serta membuat orang bertanya-tanya mengenai

Istimewa
Suasana sosialisasi Empat Pilar Bernegara yang digelar MPR Bersama PW Pemuda Muhammadiyah DIY, di Kantor DPD RI DIY, Sabtu (13/3/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - DPD RI memandang dinamika politik yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini menjadi semakin absurd, serta membuat orang bertanya-tanya mengenai manfaat, maupun kebaikannya untuk rakyat.

Hal tersebut disampaikan Anggota DPD RI Dapil DIY, Afnan Hadikusumo, di sela Sosialisasi Empat Pilar Bernegara yang digelar MPR Bersama PW Pemuda Muhammadiyah DIY, di Kantor DPD RI DIY, Sabtu (13/3/2021).

"Ini mengkhawatirkan, politik tidak lagi didedikasikan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Tapi, hanya sekadar dijadikan alat berebut kekuasaan. Fenomena-fenomena semacam ini membudaya," ujarnya.

Baca juga: Kurang Makan Sayuran Bisa Berbahaya, Bisa Sebabkan Kudis Hingga Gangguan Kardiovaskular

Sengkarut perebutan kursi pimpinan sebuah partai politik yang tengah hangat belakangan, menjadi contoh konkrit. Menurut Afnan, mereka yang terlibat di dalamnya, tidak segan lagi mengingkari hati nurani.

"Menghabisi lawan secara fisik dan karakter, atau character assassination. Harus diakui, kini fatsun dan kesantunan berpolitik mulai bergeser," tegasnya.

"Ini yang menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan kader Pemuda Muhammadiyah, bersama dengan komponen bangsa lainnya, ya," tambah Afnan.

Sementara Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PP Muhammadiyah DIY, Ahmad Syauqi Suratno, yang hadir pada kegiatan ini berujar, Pemuda Muhammadiyah harus menampilkan politik berbudaya itu.

Baca juga: Pembangunan Jalur Rel Kereta Api Bandara YIA Capai 83,6 Persen, Ditargetkan Selesai Pada Juli 2021 

"Sebagaimana amanat para founding father, kita yakni para pelakunya didorong untuk beretika politik bersih, cerdas dan santun, menjunjung nilai-nilai kebangsaan dan nasionalis, sekaligus religius," tandas Syauqi.

Untuk mencapai hal tersebut, imbuhnya, wajib ditanamkan kesadaran, bahwa politik yang hendak diperjuangkan bukan semata-mata demi kekuasaan, melainkan suatu politik yang kedepankan panggilan pengabdian.

"Ya, demi kesejahteraan masyarakat luas. Dengan demikian, nilai luhur warisan budaya bangsa ini bisa terimplementasi dalam perilaku keseharian, menjadi acuan bagi pengambil kebijakan," pungkas Syauqi. (aka)

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Kurniatul Hidayah
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved