Breaking News:

Praktikum SMK Terhenti Selama PPKM, Sekolah: Kami Sedih, Siswa Tidak Mampu Penuhi Standar Kompetensi

ebijakan perpanjangan PPKM skala mikro di DIY berdampak terhadap program praktikum siswa SMK

TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
Ilustrasi PRAKTIKUM TATAP MUKA. Siswa jurusan teknik permesinan mengikuti pembelajaran tatap muka praktik terbatas di SMK N 2 Yogyakarta, Rabu (23/9/2020). Pelaksanaan pembelajaran tatap muka praktik terbatas tersebut dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan serta izin dari wali murid. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kebijakan perpanjangan pemberlakuan pengetatan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro di DIY berdampak terhadap program praktikum siswa SMK.

Padahal, kompetensi siswa SMK sangat bergantung dengan pembelajaran praktik.

Kepala SMKN 3 Yogyakarta, Bujang Sabri mengakui kebijakan PPKM sangat berdampak pada pembelajaran di SMK, terutama pada pelajaran produktif. 

"Jelas sangat berdampak. Terutama pelajaran produktifnya. Itu sudah menjadi aturan, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa," ungkapnya kepada Tribunjogja.com, Selasa (23/2/2021). 

Menurut Bujang, siswa yang belajar di era pandemi saat ini tidak mampu memenuhi standar kompetensi. Ia pun mengungkapkan sangat sedih dengan kondisi seperti ini. 

"Secara kompetensi mereka tidak memenuhi standar, apalagi kalau pandemi ini terus berlanjut. Apalagi kalau masuk SMK kelas 1 tahu-tahu lulus, usia dan jasad sudah SLTA, tetapi pemikiran masih SMP. Ini sangat berdampak, kami sangat sedih dengan kondisi seperti ini," tuturnya. 

"Kalau lulus kompetensi mereka sangat tidak bisa seperti kakak-kakak angkatan mereka yang dulu," sambungnya. 

Baca juga: Praktikum SMK Terhenti Selama PPKM, Pakar Pendidikan UNY: Ini Pukulan Berat, Perlu Terobosan Baru

Baca juga: Pratikum Siswa SMK Dihentikan Sementara Selama PSTKM, Begini Kekhawatiran Pihak Sekolah

Bujang menyampaikan, selama ini pihaknya melakukan usaha terbaik dengan memaksimalkan metode pembelajaran, teknologi yang ada, serta materi pembelajaran produktif sehingga dapat dipahami siswa dengan baik.

Semisal, melalui platform Zoom, Google Meet, dan sebagainya. 

Kendati demikian, Bujang mengakui dengan kondisi ini siswa tidak dapat menyerap pelajaran dengan maksimal. 

"Yang namanya pelajaran praktik kalau anak-anak tidak melakukan sendiri penangkapan akan kurang. Jika hanya melihat daya serapnya hanya 10-20 persen, jika mendengar dan melihat 50-60 persen, dan jika melakukan, mendengar, dan melihat bisa 90-100 persen. Kondisi saat ini hanya 50-60 persen penyerapannya," beber Bujang. 

Ia melanjutkan, selama PPKM, materi pembelajaran praktik yang dilakukan oleh siswa hanya sebagian yang mampu dikerjakan dari rumah. Semisal jurusan bangunan dapat menggambar dari rumah. 

"Kalau ada fasilitas kami persilakan melakukan sendiri di rumah. Namun yang namanya peralatan teknik, di rumah banyak tidak tersedia," imbuhnya. 

Adapun terkait penilaian pembelajaran praktik, sementara ini, SMKN 3 Yogyakarta belum melakukan. Sebab, dibutuhkan tatap muka untuk melakukan penilaian. 

"Penilaian sementara ini hanya teoretis. Dari tugas-tugas yang diberikan bapak ibu guru. Mereka melihat video, ada tanya jawab di sana. Butuh bertemu langsung (untuk melakukan penilaian)," jelasnya. (Tribunjogja/Maruti Asmaul Husna)

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved