Breaking News:

Kota Yogya

Petakan Karakteristik Wilayah, DPRD Dorong Pemkot Yogya Selesaikan Masterplan Kelurahan

Kalangan legislatif mendorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menyelesaikan penyusunan masterplan kelurahan tahun ini.

TRIBUNJOGJA.COM / Maruti Asmaul Husna Subagio
Toko kerajinan perak yang masih buka di Jalan Kemasan, Kotagede, toko Indriana Silver. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kalangan legislatif mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta untuk menyelesaikan penyusunan masterplan kelurahan tahun ini.

Sehingga, karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah dapat dipetakan, sebagai dasar, maupun acuan program pembangunan.

Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta, Dwi Candra Putra mengungkapkan desakan ini sebagai salah satu antisipasi kekosongan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), selepas masa jabatan pasangan kepala daerah Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi rampung di 2022.

"Pilkada baru digelar 2024, pelantikannya 2025. Nah, berarti selama tiga tahun, RPJMD-nya bisa kosong. Jadi, masterplan kelurahan itu menjadi pegangan ya, untuk mengantisipasi kekosongan," cetusnya, Selasa (23/2/2021).

Candra mengatakan, masterplan kelurahan yang merupakan gambaran dari kondisi masing-masing wilayah, harus dibuat sedetail mungkin.

Karena itu, imbuhnya, di dalamnya wajib mencakup karakteristik, kondisi sosial warganya, potensi wilayah, sumber daya, hingga tantangan.

"Bukan sekadar profil kelurahan, masterplan ini harus lebih spesifik. Dengan begitu, bisa terlihat, kebutuhan wilayahnya apa saja, kemudian bagaimana pemerintah mengintervensi dengan program yang tepat " ungkapnya.

Baca juga: Sebanyak 46 Ribu Lansia di Kota Yogyakarta Masuk Potensi Vaksinasi Covid-19

Baca juga: Presiden Jokowi Berencana Pantau Pelaksanaan Vaksinasi Tahap Dua di DI Yogyakarta

Oleh sebab itu, Pemkot Yogyakarta tak bisa asal 'copy paste' program di kelurahan satu, untuk kelurahan lainnya, karena karakteristiknya pasti berbeda.

Misalnya, wilayah Kotagede yang didominasi perajin perak, karakternya beda dengan Tahunan yang mayoritas perajin jumputan.

"Kalau Pemkot mengadakan pelatihan batik untuk semua kelurahan, ya hasilnya tidak optimal. Karakteristik masing-masing wilayah kan beda, jadi bentuk intervensinya pun harus disesuaikan dengan itu," jelasnya.

Politisi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) itu menilai, perbedaan corak antar wilayah yang terjadi kota pelajar ini justru menjadi kekuatan tersendiri.

Khususnya, dari sektor pariwisata, dimana pelancong bisa memiliki alternatif destinasi selaras dengan keinginannya sendiri.

"Pilihan buat wisatawan jadi banyak. Saya rasa, ini adalah keunggulan Kota Yogyakarta. Apalagi, dari masing-masing karakteristik itu bisa disinergikan," ujarnya.

"Ya, sudah saatnya pembangunan di wilayah mendasarkan karakteristik. Jangan diseragamkan. Nah, ini pentingnya ada masterplan kelurahan," lanjut Candra. (Tribunjogja/Azka Ramadhan)

Penulis: Azka Ramadhan
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved