Breaking News:

Jawa

Pengungsi Merapi di Magelang Keluhkan Lahan Pertanian yang Terbengkalai Selama Berada di Barak

Selain harus tetap waspada terhadap potensi dan ancaman Merapi, pengungsi juga mengeluhkan soal lahan pertanian yang terbengkalai.

istimewa
Petugas BPBD Kabupaten Magelang membantu warga pengungsi Merapi untuk naik ke mobil evakuasi, Senin (1/2/2021) di TEA Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan. Pengungsi asal Babadan I Desa Paten, Kecamatan Dukun yang berjumlah sedikitnya 265 jiwa memutuskan untuk pulang ke desa asal setelah potensi ancaman Merapi yang berubah. 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Ratusan pengungsi Merapi asal Babadan 1 Desa Paten, Kecamatan Dukun pulang ke desa asal setelah beberapa bulan terakhir menjadi penghuni barak atau tempat evakuasi akhir (TEA) Banyurojo.

Kepulangan warga pengungsi ini juga menimbulkan kecemasan.

Selain harus tetap waspada terhadap potensi dan ancaman Merapi, mereka juga mengeluhkan soal lahan pertanian yang terbengkalai yang selama ini dijadikan sumber mata pencaharian.

"Jelas terbengkalai, karena mestinya warga Babadan yang bercocok tanam dan bekerja di ladang ya jadi tidak bisa lagi bekerja. Mesti bolak-balik ke barak karena ada anggota keluarga yang dirawat, punya anak dan orang tua yang mesti diperhatikan. Ini kan mengakibatkan perekonomian kami yang merupakan warga petani jadi terganggu, yang mestinya sudah panen mesti tidak jadi," kata Koordinator Pengungsi Dusun Babadan 1, Sudasri, Selasa (2/2/2021).

Baca juga: Barak Pengungsian Kosong, Warga Babadan 1 Desa Paten Jadi yang Terakhir Pulang di Magelang

Sudasri menyebut, kondisi demikian tentu tidak diharapkan oleh semua pihak.

Gejala alam yang tidak bisa ditebak membuat berbagai sektor kehidupan terdampak.

Maka itu, dia mengharapkan pemerintah hadir untuk kembali melakukan upaya-upaya pemulihan terhadap ekonomi warga yang terdampak itu.

"Setelah kami pulang ini, kami harapkan ada rehabilitasi perekonomian bagi warga pengungsi terutama yang hidup dan bersumber dari pertanian, karena kami 85 persen merupakan petani," ujarnya.

Di sisi lain, tabungan dan juga modal warga yang mestinya diperuntukkan bagi kerja-kerja di lahan pertanian mulai dari pembelian bibit, pemupukan, hingga masa perawatan pra panen disebut telah ludes untuk digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari dan juga keperluan lain selama berada di barak pengungsian.

"Misalnya seperti saya ada uang Rp1 sampai Rp2 juta yang semula diniatkan buat modal cocok tanam, itu ternyata buat sangu di pengungsian itu habis. Karena mengungsi ya otomatis tidak bisa panen. Bayangkan 83 hari di barak, kalau buat tanam sosin itu sudah bisa panen dua kali," urainya.

Halaman
12
Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved