Dexa Hachika Jatuh Cinta Pada Seni Peran, Tekuni Teater Hingga Pentas di Jepang
Dexa Hachika sempat bercita-cita menjadi polisi wanita (polwan), tapi akhirnya memantapkan langkah menjadi pekerja seni.
Penulis: Fatimah Artayu Fitrazana | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM - Dexa Hachika sempat bercita-cita menjadi polisi wanita (polwan), tapi akhirnya memantapkan langkah menjadi pekerja seni.
Wanita kelahiran 1991 ini mengaku sebelumnya tak terpikirkan menjadi aktor. Dia justru pernah bercita-cita menjadi polwan.
Perjalanannya mengenal teater dimulai dari bangku kelas lima sekolah dasar, di mana dia terlibat di pertunjukkan untuk kali pertama.
Kemudian, di bangku sekolah menengah atas, Dexa mengikuti ekstrakulikuler teater.
Baca juga: Pesan Gubernur Bengkulu kepada Wisudawan UGM, Selamat Datang di Kampus Kehidupan
Baca juga: Lepas Kendali, Toyota Kijang Lompat Jalur, Tabrak Hiace Hingga Remuk di Ring Road Utara Sleman
Di situlah dia merasa jatuh cinta pada seni peran. Hal ini yang melatarbelakangi Dexa untuk menekuni teater di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Tak berhenti di gelar strata satu, wanita bernama lengkap Siti Dexara Hachika ini juga melanjutkan berkuliah magister di kampus yang sama.
"Semakin saya banyak bertemu orang, berbicara serta berdiskusi, saya semakin merasa tidak tahu banyak hal. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kembali berkuliah di pascasarjana ISI Yogyakarta," katanya, Kamis (21/1/2021).
Dari sekian banyak pertunjukan yang pernah diperankannya, Dexa mengatakan pertunjukan 'Dionysus' yang disutradarai oleh Tadashi Suzuki.
"Saya dituntut untuk dapat berperan full power and energy. Berkolaborasi dengan 12 aktor Indonesia lainnya, 1 aktor Jepang serta 1 aktor China, di mana bahasa teks pertunjukan yang digunakan berbeda-beda," jelasnya.
Sebagai anak muda sekaligus aktor, dia juga mengobservasi fenomena-fenomena di kalangan milenial, Dexa menyuarakan pendapat atas suatu fenomena melalui karya seni.
Dexa melahirkan dua karya pertunjukan "Tubuh Plastik" tahun 2019 sebagai tugas akhir pascasarjana ISI Yogyakarta.
"Tubuh plastik sendiri itu membicarakan tentang kecantikan dan pencitraan diri. Karena saya semakin resah sebenarnya ketika melihat semua wajah hampir sama," katanya.
"Sebenarnya bukan menjadi masalah, masalahnya adalah ketika orang-orang itu menjadi korban dari sebuah iklan untuk mengikuti tren yang sedang terjadi," imbuhnya.
Karya ini menggambarkan bagaimana orang-orang bisa sampai mengambil jalan pintas hingga melakukan perawatan-perawatan hanya untuk diakui eksistensinya.
Sementara di tahun 2020, Dexa terlibat dalam pertunjukan "Perayaan Tubuh" yang juga di antaranya menyinggung soal penampilan diri.
Selain pementasan teater di dalam negeri, Dexa juga sempat menyicipi terlibat pertunjukan di luar negeri.
Pada tahun 2015, dia ikut di pementasan "Pembayun" yang disutradarai oleh Prof Dr Yudiaryani MA di LaSalle College of the Arts, Singapura.
Baca juga: Peringati HUT ke-74 Megawati Soekarnoputri, DPC PDIP Kota Yogyakarta Santuni Yatim Piatu
Baca juga: Perolehan 17 Juta Viewers Jadi Bahan Bakar Senja Music Terus Berkarya
Kemudian di 2018, gadis yang hobi jalan-jalan ini juga pentas "Dionysus" karya Tadashi Suzuki di Toga, Jepang.
Dexa juga terlibat pertunjukan yang sama di tahun 2019 di Victoria Theatre, Singapura serta di Toyama dan Kurobe, Jepang.
Di tahun yang sama, Dexa mendapat kesempatan untuk terlibat di pementasan "The Journey of Life” Restu Imansari Kusumaningrum dalam acara Olympic Theater di Kurobe, Jepang.
Untuk saat ini, meski di tengah pandemi Covid-19, Dexa tak ingin berhenti berkarya.
Dia menyiapkan proyek karya baru dan beberapa pertunjukan teater virtual.
"Saat ini saya sedang mempersiapkan beberapa karya yang baru saja akan saya mulai. Ada beberapa garapan karya pertunjukan teater virtual yang akan saya hadirkan tahun ini," ungkapnya. (Art)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dexa-hachika-seorang-aktor-teater.jpg)