Breaking News:

UPDATE Aktivitas Gunung Merapi : Luncuran Awan Panas Kembali Terjadi, Berikut Penjelasan BPPTKG

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, menjelaskan awan panas mengarah ke barat daya tepatnya menuju Kali Krasak. 

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumargo
KUBAH BARU - Kubah lava 2021 terlihat bertengger di atas sisa kubah lava 1997 yang runtuh beberapa bulan lalu. Dari sekitar gundukan lava berwarna hitam (jika malam merah seperti bara), guguran material terus berlangsung hingga Selasa (11/1/2021) 

Sementara, sebelumnya sampai ratusan kali per hari.

Deformasi cukup kecil, yakni 0,3 cm/hari.

Gas vulkanik CO2 sebelumnya mencapai 750 ppm, saat ini dalam tren menurun menjadi 600 ppm. 

"Kondisi ini, mengarahkan kepada kesimpulan bahwa per 15 Januari 2021 probabilitas erupsi efusif sekarang lebih dominan (40 persen) dan mengarah ke barat daya. Potensi erupsi eksplosif dan kubah-dalam menurun signifikan," tuturnya. 

Lebih lanjut, kata dia, hal ini sangat berbeda dengan rekomendasi bahaya yang BPPTKG sampaikan sebelumnya berdasarkan data yang didapatkan saat itu, yang mana terjadi deformasi yang besar di barat laut dan seismisitas yang tinggi.

"Potensi bahaya bergeser dan rekomendasi kami perlu disesuaikan. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km," bebernya. 

"Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 km dari puncak," sambung Agus. 

Baca juga: UPDATE Gunung Merapi Minggu 17 Januari, Gempa Guguran Tercatat 19 Kali, Gempa Hybrid 1 Kali

Baca juga: Arah Luncuran Lava Pijar ke Barat Daya BPBD Sleman Belum Instruksikan Warga Barat Merapi Mengungsi

Menurut Agus, update skenario bahaya disampaikan setiap 7 hari sekali, kecuali ada perkembangan yang mendadak.

Ia melanjutkan, rekomendasi bahaya yang BPPTKG sampaikan mengandung konsekuensi bahwa masyarakat yang tinggal di luar daerah bahaya yang disebutkan tadi bisa kembali ke rumah masing-masing. 

"Rekomendasi bahaya yang kami sampaikan mengandung konsekuensi bahwa masyarakat yang tinggal di luar daerah bahaya yang kami sebutkan tadi bisa kembali ke rumah. Masyarakat di luar daerah bahaya yang kami sebutkan bisa tinggal di pemukiman mereka," ungkap Agus. 

"Namun perlu kami tegaskan, kita mengambil kesempatan terbaik yang diberikan oleh Merapi, aktivitas saat ini tenang. Namun demikian, kita harus selalu menyesuaikan jika perubahan terjadi. Hidup harmonis dengan Merapi," sambungnya. 

( tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved