Breaking News:

Pilkada Serentak 2020

Pilkada 2020 DI Yogyakarta, Pakar Statistika: Hasil Sementara Belum Bisa Dijadikan Acuan

Dosen Statistika UII sekaligus Co Founder Data Science Indonesia, Tuti Purwaningsih mengatakan hasil perhitungan suara sementara

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
IST
Ilustrasi Quick Count 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Pilkada serentak 2020 telah selesai digelar, termasuk di tiga kabupaten DIY.

Saat ini, penghitungan suara masih berlangsung.

Dosen Statistika UII sekaligus Co Founder Data Science Indonesia, Tuti Purwaningsih mengatakan hasil perhitungan suara sementara yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun Exit Poll beberapa pihak belum bisa dijadikan acuan hasil akhir jika data belum mencapai 100 persen. 

Baca juga: Pilkada 2020 DI Yogyakarta, Pakar Politik UMY: Potensi Sengketa Pasti Ada

Baca juga: Abdul Halim Muslih Usai Klaim Kemenangan 57 Persen Pilkada Bantul, Tidak Ada Lagi 01 dan 02

Namun, jika data sudah melewati 75 persen, menurutnya perhitungan yang ada bisa dijadikan acuan sementara. 

"Kalau belum 100 persen, belum bisa jadi acuan resmi. Akan tetapi menurut saya kalau semisal datanya sudah melewati 75 persen perhitungan suara, maka tersisa peluang 25 persen yang belum terhitung, nah ini bisa diandalkan sebagai acuan sementara," ujarnya saat dihubungi Tribun Jogja, Rabu (9/12/2020). 

"Akan tetapi tetap menunggu hasil perhitungan total," sambungnya. 

Sementara, untuk hasil hitung cepat atau quick count, menurut Tuti, berlaku kemungkinan yang berbeda.

Baca juga: Sunaryata-Heri Susanto Klaim Pihaknya Unggul dari Ketiga Paslon Lain di Pilkada Gunungkidul

Baca juga: Sri Mulyani-Yoga Hardaya Menangi Hasil Penghitungan Versi Desk Pilkada Pemkab Klaten

"Quick count berbeda lagi. Biasanya kalau hasil quick count, kan mendasarkan metodologi penarikan sampel sesuai kaidah statistika, sehingga jika metodenya tepat, walaupun data yang masuk baru sedikit, itu bisa menjadi acuan," tuturnya. 

Ia menjelaskan, metode quick count lebih cepat karena menggunakan sample, sehingga tidak semua tempat pemungutan suara (TPS) dihitung.

Asalkan, lanjutnya, lembaga yang menyelenggarakan bersifat independen atau non-partisan. 

"Quick count sudah menggunakan metodologi statistika agar mengambil sampel yang tepat, sehingga sampel tersebut mampu diandalkan merepresentasikan populasi. Asalkan tidak ada domplengan partai-partai tertentu, ya. Jadi cari yang independen," tandasnya. (uti) 

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved