Breaking News:

Kanwil Kemenkumham DI Yogyakarta Hadirkan Aplikasi SI MONAS Pantau Napi Asimilasi

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DI Yogyakarta (DIY) melakukan peluncuran aplikasi sistem informasi

Tribunjogja/ Yosef Leon Pinsker
Suasana peluncuran aplikasi SI MONAS oleh Kanwil Kemenkumham DIY, Senin (30/11/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kanwil Kemenkumham) DI Yogyakarta (DIY) melakukan peluncuran aplikasi sistem informasi monitoring dan evaluasi narapidana asimilasi dan integrasi (SI MONAS), Senin (30/11/2020).

Aplikasi yang berguna memantau napi asimilasi di masa pandemi Covid-19 tersebut merupakan inovasi Kanwil Kemenkumham DIY dan pertama kali hadir di Indonesia. 

Kakanwil Kemenkumham DIY Indro Purwoko mengatakan, aplikasi tersebut bertujuan untuk menghubungkan antara napi dengan kelompok masyarakat yang berkerja sama dengan pihaknya dalam melakukan pemantauan kepada para napi asimilasi. 

Baca juga: Kepala Dinkes DI Yogyakarta : Staf Kami Meneteskan Air Mata, Pasien Masih Terkapar di IGD

Baca juga: Kasus Covid-19 DI Yogyakarta Melonjak, Kapasitas Tempat Tidur Non Critical 90 Persen Penuh

"Yang bisa mengunakan aplikasi ini adalah kepala Bapas, kelompok masyarakat yang ditunjuk dan Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang memberikan bimbingan. Masyarakat juga bisa memonitor klien itu dibimbing bagaimana," jelas dia. 

Indro menjelaskan, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang pemantauan dengan cara tatap muka tidak mungkin dilakukan.

Dengan demikian, monitoring daring melalui aplikasi dapat menjadi alternatif agar pelaksanaan program dapat berjalan dengan optimal. 

"Di masa pandemi aplikasi ini tentu sangat membantu. Karena kami punya sekitar 918 klien di seluruh Jogja, kan tidak mungkin kalau ditemui satu-satu. Jadi lewat aplikasi ini, kami bisa memantau sejauh mana klien melaksanakan bimbingan, dan kegiatan apa saja serta hasilnya bagaimana," jelas dia. 

Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas) Kanwil Kemenkumham DIY, Gusti Ayu Putu Suwardani menyatakan, adapun alur penerapan aplikasi tersebut yakni pertama kali napi asimilasi akan diserahkan dan diregistrasi ke Bapas. Kemudian, napi tersebut akan di input datanya dan ditunjuk PK yang akan mendampingi. 

Baca juga: Kantongi Rekomendasi, Tiga Bioskop di Sleman Boleh Beroperasi Lagi

Baca juga: Lebihi Target, Jaringan Internet Diskominfo Gunungkidul Terpasang di 1.041 Titik

"Setelah itu, PK akan meneruskan bimbingan apa, berapa lama, dan jenis kegiatan bimbingannya apa. Setelah diinput oleh PK, akan masuk ke dalam akun Pokmas. Nanti Pokmas yang melihat semuanya dan targetnya seperti apa. Kemudian dinilai apakah napinya sudah cukup baik atau bagaimana," jelasnya. 

Gusti Ayu menambahkan, secara umum kehadiran aplikasi ini berguna untuk memantau secara konkret tindakan dan perilaku para napi asimilasi selepas keluar dari lapas.

Pasalnya, selama ini pihaknya menyebut para napi asimilasi belum terpantau dan dievaluasi secara maksimal. 

"Sehingga kami bisa lebih mudah mencegah mereka kembali berbuat tindak pidana serta mampu diterima di masyarakat. Karena statistik di Yogyakarta itu ada sekitar 200 napi asimilasi yang kembali residivis, jadi masih lumayan tinggi. Jadi kami berharap aplikasi ini mampu tercantum, tercatat dan diberikan bimbingan serta tidak lagi melakukan tindak pidana," pungkas dia. (Jsf)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved