Breaking News:

Kulon Progo

6 Pasar Tradisional di Kulon Progo Akan Diterapkan e-Retribusi

Sebanyak enam pasar tradisional akan menjadi sasaran awal penerapan e-Retribusi oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kulon Progo.

Penulis: Sri Cahyani Putri
Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Kulonprogo 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Sebanyak enam pasar tradisional akan menjadi sasaran awal penerapan e-Retribusi oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kulon Progo

Keenam pasar tersebut di antaranya Pasar Dekso, Pasar Jagalan, Pasar Samigaluh, Pasar Percontohan Sentolo, Pasar Jombokan dan Pasar Bendungan

"e-Retribusi ini kita sasar bagi pedagang di kios dan los yang sudah pasti menggunakan. Selain itu, penerapan ini untuk lebih mensosialisasikan kepada para pedagang," kata Iffah Mufidati, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Kulon Progo Kamis (26/11/2020). 

Adapun dalam pengembangan e-Retribusi tersebut pihaknya bekerjasama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY. 

Baca juga: Jelang Libur Akhir Tahun, Harga Kebutuhan Pokok di Kulon Progo Terpantau Cukup Stabil

Oleh sebab itu, pihaknya juga sudah mengkoordinasikan dengan pihak perbankan untuk penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lebih digiatkan bagi semua pedagang. 

Sehingga orang yang akan membeli kebutuhan di pasar bisa melalui pembelian non tunai. 

Iffah berharap kebiasaan non tunai tersebut juga semakin teredukasi. 

"Karena masa transisi dari zona nyaman menggunakan uang cas menjadi non tunai tentu ada masanya tidak nyaman misalnya masih banyak yang mengeluh maupun komplain sehingga juga perlu adanya sosialisasi," ucapnya. 

Dengan demikian melalui QRIS tersebut nantinya pembayaran e-retribusi semakin mudah. 

"Mudah-mudahan kami bisa mengoptimalkan dengan mengajak pihak perbankan untuk segera merealisasikan penggunaan QRIS secara menyeluruh kepada para pedagang agar mereka lebih nyaman dalam transaksi non tunai," tutur Iffah. 

Baca juga: UNIK, Warga Sebokarang Kulon Progo Produksi Tape Lidah Buaya, Dipasarkan Hingga Luar Kota

Ia menambahkan para pedagang juga tidak direpotkan untuk mengingat pembayaran retribusi per bulan karena bisa menggunakan auto debit atau rekening. 

Di sisi lain pembayaran non tunai membuat pemerintah lebih efisien dalam menerima pembayaran retribusi dari para pedagang. 

"Karena kalau menggunakan tunai, uang yang dibayarkan tersebut harus berpindah beberapa tangan sebelum masuk ke kas daerah. Mulai dari petugas pemungut retribusi kemudian diserahkan ke UPT. Selanjutnya dari UPT disetorkan ke Dinas baru kami setorkan ke bank," jelas Iffah. 

Dengan e-Retribusi, pembayaran sudah langsung teradministrasi sehingga pihaknya tinggal melakukan pemantauan secara progresnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved