Breaking News:

Tol Yogya Solo

Hari Kedua Musyawarah Ganti Rugi Tol Yogyakarta-Solo di Klaten, Berikut Daftar Harganya

Musyawarah penetapan ganti kerugian tanah Jalan Tol Yogya-Solo di Kabupaten Klaten berlanjut ke Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo

Penulis: Almurfi Syofyan
Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Almurfi Syofyan
Suasana musyawarah ganti rugi pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Solo di Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Rabu (25/11/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Musyawarah penetapan ganti kerugian tanah Jalan Tol Yogya-Solo di Kabupaten Klaten berlanjut ke Desa Sidoharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Rabu (25/11/2020).

Desa ini merupakan desa kedua yang menggelar musyawarah penetapan ganti kerugian tanah di Klaten.

Sebelumnya, Desa Kahuman telah lebih dahulu menggelar musyawarah penetapan ganti rugi lahan tersebut.

Kepala desa (Kades) Sidoharjo, Tri Manto mengatakan jika di desa yang ia pimpin terdapat sekitar 100 bidang tanah milik dari 84 warga desa.

Baca juga: Pilkada Bantul : Pjs Bupati Bantul Berharap Warga Pilih Pemimpin Bukan Karena Uang 

Baca juga: Poktan DI Yogyakarta Kembali Mengadu, Mulai dari Kartu Tani Tanpa Saldo hingga Stok Pupuk

Baca juga: GKR Mangkubumi : Pramuka Bertugas di Posko Sejak Warga Lereng Gunung Merapi Mengungsi

Bidang tanah tersebut tersebar dalam berbagai aset di atasnya, mulai dari sawah hingga rumah.

"Disini, awalnya ada 84 bidang tanah yang terdampak pembangunan tol. Tapi kemudian ada penambahan sedikit-sedikit hingga totalnya menjadi 100 bidang," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Ia mengatakan jika di Desa Sidoharjo, mayoritas masyarakat yang tanahnya terdampak jalan tol sepakat dengan penawaran ganti rugi yang telah disampaikan oleh panitia pengadaan tanah proyek jalan tol tersebut.

"Mayoritas warga setuju. Insyallah setuju semua, karena itu kan program pemerintah. Mau nggak mau ya dia yang rugi," ucapnya.

Menurutnya, harga tanah yang ditawarkan oleh panitia pengadaan tanah proyek jalan tol juga sudah cukup tinggi jika dibandingkan harga tanah pasaran normal di desa tersebut.

"Disini biasanya satu meter tanah itu dihargai sekitar Rp 400 ribu, kalau untuk tol dihargai sekitar Rp 600. Ini kan juga sudah bisa untuk beli sawah lagi, malah untung juga, jadi masyarakat mayoritas sepakat," akunya.

Baca juga: Doa Minta Dibukakan Rezeki dari Segala Penjuru Arah Bahasa Arab dan Terjemahannya

Baca juga: UPDATE Covid-19 Hari Ini 25 November 2020: Kasus Baru Tambah 5.534, Tingkat Kesembuhan di Angka 84%

Baca juga: KCI Chapter Yogyakarta Jadi Rumah Baru Pecinta Honda CBR Series

Lalu, lanjut Tri Manto, untuk tanah yang aset di atasnya berupa bangunan dan berada di dekat jalan kabupaten, tanahnya dihargai Rp 1 juta per meternya.

"Iya, kalau tanah yang ada bangunannya beda lagi harganya. Kisarannya Rp 1 juta per meter," tambahnya.

Sementara itu, Mulyono (56) salah seorang warga yang tanahnya ikut diterjang pembangunan proyek strategis nasional (PSN) itu mengaku sepakat dengan tawaran yang diberikan.

Bahkan pemilik sawah seluas 1.199 meter persegi itu mengaku telah mendatangani berita acara kesepakatan saat musyawarah penetapan ganti kerugian tanah Jalan Tol Yogya-Solo di desa tersebut.

"Saya sepakat. Sudah tanda tangan. Sawah saya dihargai sekitar Rp 600 ribu permeternya. Nanti uangnya untuk beli sawah lagi di lokasi yang lain, tapi masih di desa ini," ucapnya. (Mur)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved