Ilmuwan Israel Temukan Teknologi Bunuh Sel Kanker Tanpa Kemoterapi
Ilmuwan Israel klaim telah menemukan cara baru untuk membunuh sel kanker dengan pemotongan genom yang berpotensi gantikan kemoterapi
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM - Ilmuwan Israel klaim telah menemukan cara baru untuk membunuh sel kanker. Cara ini disebut lebih aman bahkan bisa menggantikan kemoterapi yang dinilai lebih berisiko.
Penelitian mereka telah diujicobakan pada tikus. Hasilnya sel kanker dapat dihancurkan tanpa merusak sel-sel yang ada di sekitarnya. Ibaratnya, teknologi seperti halnya gunting sangat kecil yang memotong hanya pada sel-sel yang sudah terkena kanker saja.
Sebagaimana dilansir Times of Israel, metode itu disebut Rekayasa Gen CRISPR Cas-9.
“Ini adalah studi pertama di dunia yang membuktikan bahwa sistem pengeditan genom CRISPR, yang bekerja dengan memotong DNA, dapat secara efektif digunakan untuk mengobati kanker pada hewan,” kata Prof Dan Peer, pakar kanker dari Universitas Tel Aviv, setelah penelitian peer-reviewnya dipublikasikan di jurnal Science Advances.
Kepada Times of Israel, ia menyatakan bahwa cara ini tidak menimbulkan efek samping. Bahkan disebut lebih aman dibandingkan dengan kemoterapi.
"Kami percaya bahwa kanker yang dihancurkan dengan cara ini tidak akan aktif kembali," katanya.
Teknologi tersebut, katanya, dapat meningkatkan harapan hidup para pasien kanker dan ia berharap suata saat nanti bisa menyembuhkan berbagai kanker.
"Teknologi ini secara fisik dapat memotong DNA pada sel-sel yang terkena kanker dan sel-sel tersebut memang tidak bisa bertahan," tambahnya.
Ia juga sangat berharap agar teknologi ini nantinya bisa benar-benar menggantikan kemoterapi yang memiliki efek samping pada pasien kanker.
Penelitian tersebut menggunakan teknologi pengeditan genom yang saat ini hanya digunakan untuk penyakit langka dan hanya pada sel-sel yang dikeluarkan dari tubuh. Ini telah diadaptasi untuk mengedit - atau "menghapus" - sel kanker.
Pengujian pada Tikus
Artikel jurnal Science Advances melaporkan pengujian menggunakan teknik ini pada ratusan tikus, dan Peer mengatakan teknik itu dapat digunakan pada manusia dalam waktu dua tahun.
Para peneliti menemukan bahwa tikus dengan kanker yang menerima pengobatan memiliki harapan hidup dua kali lipat dan tingkat kelangsungan hidup mereka 30 persen lebih tinggi.
Peer mengatakan bahwa disesuaikan dengan manusia, pengobatannya akan sangat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien berdasarkan biopsi, dan diberikan sebagai suntikan umum atau suntikan langsung ke tumor, tergantung mana yang paling cocok.
“Teknologi ini perlu dikembangkan lebih lanjut, tetapi yang utama kami telah menunjukkan bahwa ini dapat membunuh sel kanker,” ujarnya.
Untuk penelitian ini, Peer dan timnya memilih dua dari kanker paling mematikan: glioblastoma dan kanker ovarium metastatik.
Glioblastoma adalah jenis kanker otak yang paling agresif, dengan harapan hidup 15 bulan setelah diagnosis dan tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya 3%. Ke depannya, mereka berencana mengembangkan pengobatan untuk semua jenis kanker.
Dia mengatakan bahwa injeksi terdiri dari tiga komponen: nanopartikel yang dibuat dari lipid, pembawa pesan genetik RNA yang "menyandikan" "fungsi gunting kecil" untuk memotong DNA, dan sistem navigasi yang "mengenali" sel kanker.
“Ketika kami pertama kali berbicara tentang pengobatan dengan pembawa pesan RNA dua belas tahun lalu, orang mengira itu fiksi ilmiah,” kata Peer.
"Saya percaya bahwa dalam waktu dekat, kita akan melihat banyak perawatan yang dipersonalisasi berdasarkan pembawa pesan genetik, untuk kanker dan berbagai penyakit genetik," paparnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/teknologi-pemotongan-genom-sel-kanker.jpg)