Breaking News:

Tak Ingin Budaya Jawa Luntur, Dinsos DIY Gelar Restorasi Sosial

Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinsos DIY) menggelar Sarasehan dan Penyuluhan Restorasi Sosial.

Ist
Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinsos DIY) menggelar Sarasehan dan Penyuluhan Restorasi Sosial. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinsos DIY) menggelar Sarasehan dan Penyuluhan Restorasi Sosial. Salah satunya dengan Gerbangpraja atau Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa. 

Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos DIY, Sri Suprapti mengatakan Gerbangpraja hanya salah satu kegiatan dari Dinsos DIY. Ada banyak kegiatan yang dilakukan agar nilai-nilai budaya Jawa tetap dipertahankan.

"Saat ini budaya asing masuk ke Jogja dengan mudah mempengaruhi budaya kita. Tidak hanya anak muda atau kaum milenial, orang tua pun jug perlu diingatkan," katanya, disela sosialisasi dan penyuluhan di Balai Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, Sabtu (21/11/2020).

Melalui Gerbangpraja, ia berharap masyarakat bangga dengan aksara Jawa dan semakin memiliki etika, sopan santun, dan gotong-royong sebagai warga Yogyakarta. 

"Jadi harapannya dengan Gerbangpraja ini bisa membuat masyarakat dapat memaknai nilai-nilai, memiliki etika, sopan santun, kalau saya ini orang Jogja. Sehingga tidak ada lagi yang namanya klitih, tawuran. Semuanya gotong-royong, saling menghargai," sambungnya. 

Restorasi sosial memang menjadi salah satu kegiatan rutin Dinsos DIY selama tiga tahun ini. Tidak hanya dilaksanakan di Balai Kalurahan Lumbungrejo, tetapi juga di kalurahan lain.

Sejak triwulan terakhir, ada 52 titik yang menjadi sasaran restorasi sosial. Sedangkan pada 2019 ada 60 titik yang menjadi sasaran restorasi sosial. 

"Gerbangpraja ini adalah salah satu cara kami untuk melakukan restorasi sosial. Ada kegiatan lain seperti kunjungan ke museum, olimpiade pahlawan, dan lain-lain," ujarnya. 

Sementara itu, Perwakilan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KPH Yudho Hadiningrat menyambut baik kegiatan restorasi sosial yang diselenggarakan oleh Dinsos DIY. Menurut dia, bukan hanya aksara Jawa saja yang penting. Namun juga tata krama, unggah-ungguh, tata bahasa budaya Jogja yang benar. 

Ia menilai saat ini banyak bahasa yang digunakan secara keliru, anak muda saat ini pun tidak memegang tata krama Jogja.

"Kalau sekarang anak muda dimarahi tidak patuh, tidak mendengarkan, ditinggal main HP, malah nuding ibunya yang salah. Padahal dulu tidak begitu, kalau dimarahi ya nunduk. Sekarang mulai luntur," ungkapnya.

"Makanya kami menyambut, Keraton sangat merespon gerakan Dinsos DIY. Supaya bisa mengembalikan budaya yang dicanangkan leluhur kita, dengan restorasi sosial. Sehingga lebih memiliki tata krama, tata bahasa, dan bisa menghormati orang yang lebih tua," lanjutnya.

Ia pun berharap, para pamong kalurahan yang mengikuti restorasi sosial dapat menjadi pionir dan dapat menjadi pamomong bagi kaum muda. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved