Pencurian Ikan di Natuna Utara Didominasi Kapal Vietnam, Nahkodanya Nekat, Tabrak Kapal Patroli

Pencurian Ikan di Natuna Utara Didominasi Kapal Vietnam, Nahkodanya Nekat, Tabrak Kapal Patroli

Editor: Hari Susmayanti
KOMPAS.com / YOHANES KURNIA IRAWAN
Ilustrasi: Direktorat Polisi Perairan, Mabes Polri, menangkap 2 kapal Vietnam yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di wilayah perairan Indonesia. Kapal beserta seluruh ABK kemudian dibawa menuju markas Dit Polair Polda Kalbar, Kamis (3/3/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Pelaku pencurian ikan di kawasan Laut Natuna Utara Kepulauan Riau didominasi oleh kapal-kapal berbendera Vietnam.

Dari total 31 kapal yang diamankan saat melakukan pencurian ikan di Laut Natuna Utara, sebanyak 21 di antaranya merupakan kapal berbendera Vietnam.

Dari catatan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, sebanyak 31 kasus pencurian ikan di Laut Natuna Utara tersebut terjadi hanya dalam kurun waktu lima bulan saja, yakni mulai Juni-Oktober 2020.

Koordinator Nasional DFW Indonesia Moh Abdi Suhufan menuturkan, kapal Vietnam kerap melakukan perlawanan saat petugas melakukan pengamanan.

"Kami mencatat penangkapan yang dilakukan oleh aparat Indonesia sering kali mendapat perlawanan oleh kapal Vietnam dengan menabrakan diri, ini berbahaya dan perlu antisipasi yang tinggi," ujar Abdi dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2020).

Kini, seluruh kapal diamankan oleh kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Bakamla, dan TNI AL.

Baca juga: Kronologi Mantan Anggota Brimob di Medan Tembak Polisi, Dipicu Masalah Utang-piutang

Baca juga: Kronologi Dua Santri di Lombok Terseret Banjir, Berawal Ingin Selamatkan Teman, Tapi Malah Tewas

Abdi menegaskan meningkatknya aksi pencurian ikan oleh kapal Vietnam perlu mendapat perhatian Pemerintah Indonesia.

Ia mengingatkan supaya otoritas pengawasan Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan intensitas operasi pengawsan di Laut Natuna Utara.

Abdi mengungkapkan, Laut Natuna Utara semakin rawan menyusul meningkatnya ekskalasi di Laut Cina Selatan belakangan ini.

Ia menyatakan Pemerintah Indonesia perlu merespon secara hati-hati dan tegas.

Sebab, selain pencurian ikan, juga terjadi pelanggaran kedaulatan dengan masuknya kapal China di wilayah laut Indonesia.

"Ada dua hal yang terjadi di laut Natuna yaitu pencurian ikan oleh kapal Vietnam dan pelanggaran kedaulatan oleh kapal China," terang Abdi.

Sementara itu, peneliti DFW Indonesia, Muh Arifuddin mengatakan kerawanan pencurian ikan di Natuna perlu direspon dengan meningkatkan pengawasan.

"Kombinasi patroli laut dan udara perlu dilakukan oleh unsur pengawasan Indonesia," ungkap Arif.

Dia juga menyarankan agar patroli dan latihan gabungan militer Indonesia perlu dijadwalkan secara rutin agar kehadiran unsur militer Indonesia bisa diperlihatkan.

"Indonesia tidak bisa pasif dan berdiam diri dengan maraknya pencurian ikan dan pelanggaran kedaulautan di Natuna," kata Arif.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "31 Kapal Asing Curi Ikan di Natuna Sejak Juni, 21 di Antaranya Kapal Vietnam

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved