Breaking News:

Sejarah Singkat Tradisi Buka Cupu Kyai Panjala di Girisekar, Panggang, Gunungkidul

Upacara dipusatkan di rumah Dwijo Sumarto, ahli waris dan keturunan ke-7 Kyai Panjala, penemu dan pemilik awal cupu yang dikeramatkan itu.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM
Ilustrasi: Upacara adat pembukaan cupu panjala, yang berlangsung di Gunung Kidul dari Senin hingga Selasa (22/10/2019) dini hari. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Riwayat tradisi buka pembungkus cupu Kyai Panjala (Panjolo) sudah berlangsung bertahun-tahun.

Ritus kebudayaan ini berlangsung di Padukuhan Mendak, Desa Girisekar, Kapenawon Panggang, Gunungkidul.

Dalam beberapa tahun terakhir, upacara dipusatkan di rumah Dwijo Sumarto, ahli waris dan keturunan ke-7 Kyai Panjala, penemu dan pemilik awal cupu yang dikeramatkan itu.

Acara digelar pada malam Selasa Kliwon sasi Sapar dalam kalender Jawa.

Tahun 2020, bertepatan masih berlangsungnya pandemic virus Corona, upacara dilaksanakan Senin Wage (5/10/2020) malam.

Menurut Dwijo Sumarto kini cupu warisan Kyai Panjala tinggal tiga buah, yang masing-maisg diberi nama Semar Tinandu, Palang Kinantang, dan Kenthiwiri.

Dua cupu lain, Bagor dan Klobot, telah menghilang.

Cupu-cupu itu, berupa wadah seperti terbuat dari keramik, diletakkan di dalam kotak kayu tua. Umurnya konon sezaman dengan cupu-cupu di dalamnya.

Tentang dua cupu yang menghilang, Dwijo Sumarto menjelaskan, Bagor dan Klobot melenyapkan diri karena merasa tidak dihormati. Namanya selalu disebut-sebut setiap mulut manusia tanpa penghormatan sedikit pun.

Dwijo Sumarto mengetahui kisah hilangnya dua cupu tersebut dari cerita nenek moyang. Cupu Kyai Panjala berada di kediamannya sekarang ini sejak 1957.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved