Breaking News:

tosan aji Purworejo

Wartawan Purworejo Belajar Menjamas Keris Koleksi Museum Tosan Aji

Tak hanya diharapkan ikut menyebarluaskan berita, para wartawan Purworejo diajari secara langsung tata cara menjamas pusaka koleksi Museum Tosan Aji.

DOK. DISPARBUD PURWOREJO
TRADISI TAHUNAN - Prosesi utama jamasan pusaka koleksi Museum Tosan Aji Purworejo yang digelar di halaman museum setempat, Jumat (11/9/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Puluhan wartawan Purworejo mengikuti agenda Belajar Bersama di Museum Tosan Aji Purworejo, Selasa (15/9/2020). Pada agenda yang digagas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, para wartawan diajak mengenal lebih jauh isi Museum Tosan Aji dan berkesempatan belajar cara merawat benda-benda tosan aji seperti keris, cundik, pedang dan lain-lain.

Didampingi empat staf UPT Pengelola Alun-Alun dan Museum Tosan Aji, para juru tulis media tersebut belajar mewarangi atau membersihkan keris dan mengenal 1.138 koleksi museum. Para wartawan belajar membersihkan keris yang dipandu Ipunk Purwanto, pegawai museum bagian perawatan tosan aji.

“Setiap keris durasi perendamannya berbeda-beda tergantung kondisi, apakah karatnya parah atau tidak. Kalau yang parah itu biasanya pukul 23.00 malam saya rendam, lalu esoknya baru disikat,” papar Ipunk.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo AP MM menyatakan, semua koleksi museum berasal dari hibah masyarakat. Koleksi museum terdiri atas arca, keris, pedang, tombak, cundik dan puluhan benda purbakala lainnya yang dulu digunakan sebagai senjata, ritual, atau hanya hiasan.

Menurutnya, koleksi Museum Tosan Aji memiliki nilai tinggi, sehingga menjadi sisi positif sebagai pilihan tempat wisata.  “Setidaknya museum kita bisa bersaing dengan yang lain. Secara koleksi berani bertanding dengan museum lain,” katanya.

Agung berharap, wartawan dapat menyebarluaskan salah satu destinasi wisata di Purworejo ini. Sehingga, dapat menarik masyarakat luas datang ke museum untuk menambah wawasan mengenai peninggalan-peninggalan sejarah.

“Museum sudah lama, namun tak begitu terdengar. Harapannya, teman-teman wartawan dapat membantu dari sisi publikasi dan promosi. Meski begitu, setiap tahun jumlah kunjungan ke museum ini selalu naik. Rata-rata pengunjung mencapai 100-150% dari target yg ditetapkan,” ujarnya.

Dibedakan Jadi Lima Tangguh
Koleksi keris dan pedang di Museum Tosan Aji dibedakan menjadi lima tangguh, yakni tangguh Mataram, Majapahit, Kartosuro, Pajajaran, dan Kamardikan. “Tangguh itu artinya masa pembuatan keris dan pedangnya. Tangguh tertua Pajajaran dan termuda Kamardikan,” jelas Shima, seorang staf UPT Alun-Alun dan Museum Tosan Aji, saat mendampingi para wartawan.

Koleksi dari masa Tangguh Mataram, misalnya dapur katana tahun 1538, pedang pamor kulit semongko, pedang pamor buntel. Tangguh Majapahit, semisal keris koro welang pamor kulit semongko, keris kantar pamor kulit semongko, dan tikam kulit sari adeg.

Keris yang termasuk tangguh Kartosuro, diantaranya keris kebo teki pamor tunggak semi dan kebo teki sanak Mataram. Sedangkan tangguh kamardikan seperti keris baru, dapur nogo pamor beras wutah. (ayu)

Penulis: Agus Wahyu
Editor: Agus Wahyu
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved