Jakob Oetama Meninggal Dunia

Mengenang Jakob Oetama : Terima Kasih, Pak Jakob. Kami Lanjutkan Perjuanganmu

Jakob memantapkan hati menekuni profesi di bidang jurnalistik. Ia sepakat untuk menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional.

Penulis: Sigit Wdiya | Editor: Muhammad Fatoni
KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Selamat Jalan Jakob Oetama, 27 September 1931-9 September 2020. 

“Tetap kritis dan korektif dengan cara santun, muncul Kompas pada 28 Juni 1965. Yang saya dan Pak Ojong lakukan adalah tetap berpegang realitas ciptaan there is no angel in the world (tidak ada malaikat di dunia ini, Red). Kami menyampaikan kritik with understanding (dengan pemahaman, Red),” urainya.

Jakob Oetama, Rasa Cintanya kepada Manusia, Pendidikan dan Wartawan . . .

Jakob Oetama Mewariskan Semangat Jurnalisme Mengawal Demokrasi

Kompas tak lantas lemah gemulai. Terkadang membentak, kemudian surut merendah, namun tetap terus mengetukkan telunjuk adalah ciri khasnya. 

Hal tersebut yang terus dilakukan walaupun kekuasaan rezim Soeharto pernah memberedel Kompas pada 2 Januari hingga 5 Februari 1978.

“Melalui karikatur Selamat Pagi karya GM Sudarta, karikaturis asal Klaten, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1978 ranah kehidupan Kompas hidup lagi. Kali ini tak sekadar berkarier, namun bekerja di Kompas adalah sebuah panggilan hidup,” cerita Jakob.

Sampai sebuah kejadian mendadak terjadi pada 31 Mei 1980. Ojong meninggal dunia pada usia 59 tahun. 

Kabar tersebut menjadi pukulan bagi Jakob. Mereka yang telah sekitar 15 tahun bersama merintis dan mengembangkan lembaga Kompas Gramedia, akhirnya dipisahkan.

Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama di ruang kerjanya di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta. Foto diambil Selasa (27/9/2016), tepat di hari ulang tahunnya.
Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama di ruang kerjanya di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta. Foto diambil Selasa (27/9/2016), tepat di hari ulang tahunnya. (KOMPAS.com /GARRY ANDREW LOTULUNG)

“Saya meneteskan air mata. Saat itu menjadi masa terberat bagi saya. Pak ojong, selamat jalan. Suatu saat nanti, kita akan berjumpa lagi. Saya dan rekan-rekan niscaya sukses berkat restu. Niscaya pula kami terberkati,” kata Jakob melepas pemakaman sahabat yang sudah seperti saudaranya tersebut.

Dari Jakob kepada Ojong, nilai manusia yang paling berharga adalah wataknya yang baik.

Meski tak bermaksud berusaha dengan tujuan utama membuat laba, sampai sebegitu jauh sebagian besar dari usaha-usaha Kompas Gramedia berkembang pesat. 

Dan Rabu, 9 September 2020 siang kemarin, 40 tahun setelah kepergian Ojong, Jakob menutup usia dengan meninggalkan kebaikan dan kebajikan. 

Terima kasih, Pak Jakob. Kamis, 10 September 2020, kami ikhlas mengantarmu ke pusara. Damailah di surga. Kami lanjutkan perjuanganmu.

(Tribun Jogja/Sigit Widya)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved