Breaking News:

Jakob Oetama Meninggal Dunia

Mengenang Jakob Oetama : Terima Kasih, Pak Jakob. Kami Lanjutkan Perjuanganmu

Jakob memantapkan hati menekuni profesi di bidang jurnalistik. Ia sepakat untuk menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo
Selamat Jalan Jakob Oetama, 27 September 1931-9 September 2020. 

Andai Jakob Oetama (1931-2020) menjadi dosen dan dikirim ke Universitas Leuven, Belgia atau University of Columbia, Amerika Serikat (AS), seperti yang ditawarkan kepadanya, mungkin tidak akan lahir koran dengan terobosan-terobosan mencerahkan, yang merupakan bagian dari usaha survival-nya di bawah pemerintahan represif Soeharto, penguasa kala itu. "Syukur Tiada Akhir" (2011, St Sularto, mantan Wakil Pemimpin Umum Kompas).

LULUS B-1 Sejarah pada 1959 dengan nilai rata-rata 9, Jakob direkomendasi memperoleh bea siswa di University of Columbia, AS, oleh seorang gurunya, Van den Berg SJ (Alm), pengampu Sejarah Eropa asal Belanda.

Arahan Van den Berg, Jakob merenggut gelar PhD (Doktor Filsafat, Red) dan kelak menjadi dosen sejarah atau sejarawan.

Padahal, pada saat bersamaan, profesi sekaligus cita-citanya menjadi guru mulai goyah, yang diikuti keputusannya menjadi wartawan. 

Mengatasi keraguan itu, ia melamar sebagai dosen di Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Jawa Barat.

“Saya diterima. Bahkan, karena sudah berkeluarga, saya sudah pula disiapkan rumah dinas di Bandung. Saya pun sudah siap-siap pindah ke sana bersama keluarga. Dan Unpar berjanji, setelah beberapa tahun mengajar, saya akan memperoleh gelar PhD di Universitas Leuven, Belgia,” kenang Jakob dalam buku Syukur Tiada Akhir" (2011).

Siang Ini, Jusuf Kalla Pimpin Upacara Pemakaman Jakob Oetama di TMP Kalibata Jakarta

Mengenang Jakob Oetama : Sosok Luar Biasa yang Tetap Biasa Itu Akan Terkenang Sepanjang Masa

Menjadi dosen atau wartawan merupakan dua alternatif yang sama-sama menarik. 

Hingga suatu ketika, seorang pastor OFM (Tarekat Religius yang tidak  mengikatkan  kepada Keuskupan tertentu, Red), JW Oudejans, menanyai profesi sesungguhnya yang akan ditekuni Jakob.

“Menjadi dosen! Itu jawaban mantap yang saya ucapkan kepada Pastor JW Oudejans. Namun, ia lantas mengatakan kepada saya bahwa orang yang berprofesi menjadi guru sudah banyak, sedangkan wartawan tidak,” tuturnya.

Saat itulah, Jakob memantapkan hati menekuni profesi di bidang jurnalistik. Ia sepakat untuk menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional. 

Jakob Oetama
Jakob Oetama (Kompas.com)
Halaman
123
Penulis: Sigit Wdiya
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved