Breaking News:

Bisnis

Sekitar 40 Persen, Start Up di Yogyakarta Terimbas Pandemi

Perusahaan rintisan berbasis teknologi (start up) termasuk yang terpukul mengalami penurunan permintaan selama pandemi.

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perusahaan rintisan berbasis teknologi (start up) termasuk yang terpukul mengalami penurunan permintaan selama pandemi.

Hal ini turut dialami perusahaan start up yang mengembangkan bisnisnya di wilayah Yogyakarta.

Berdasarkan data Asosiasi Digital Kreatif (Adiftif) Daerah Istimewa Yogyakarta mencatatkan dari sekitar 100 anggota yang tergabung sekitar 40 persen mengalami penurunan permintaan jasa atau produk.

Ketua Adiftif DIY, Saga Iqranegara mengatakan, penggunaan basis digital dalam pemasaran belum tentu membuat suatu perusahaan dapat kokoh berdiri apalagi pada masa pandemi.

Start Up Fitinline di Yogyakarta Manfaatkan Pasar Digital pada Masa Pandemi

"Pola pasar sudah berbeda tidak seperti dulu. Sekarang, pelayanan jasa yang berkaitan dengan masa pandemi yang dapat menuai untung lebih," jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Rabu (09/09/2020).

Di wilayah Yogyakarta, lanjut Saga, untuk yang berbasis kebutuhan pandemi seperti sektor pembelajaran daring, pembayaran daring, hingga sistem untuk bekerja secara daring akan mengalami lonjakan permintaan.

Sedangkan, usaha yang jasanya tidak begitu banyak diperlukan saat masa pandemi kebalikannya.

"Ya, sekarang tinggal pasar yang menentukan produk atau jasa apa yang dibutuhkan. Jadi, sama saja seperti sektor usaha lain momen yang menentukan minat masyarakat khususnya masa pandemi ini," ujarnya.

Halodoc Masuk 150 Startup Healthcare Paling Inovatif Dunia

Saga menambahkan, mayoritas perusahaan di wilayah Yogyakarta berpatisipan pada kategori creativy agency sebesar 24 persen dari total keseluruhan perusahaan yang tergabung.

Setelahnya diikuti kategori E-Commerce sebesar 6 persen. ISP, Hosting, dan Security senilai 4 persen. Lalu, Animasi dan Game juga 4 persen.

Kemudian, pendidikan dan sektor lainnya masing-masing 2 persen dan 1 persen.

"Jadi, dalam kondisi pandemi tidak 100 persen start up terkena dampak negatif. Ada sebagian yang menjadikan peluang untuk lebih inovatif dalam memanfaatkan pasar," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved