Breaking News:

Bisnis

Laju Pertumbuhan Usaha Non Pertanian di DIY Mengalami Kontraksi Sebesar 8,12 Persen

Usaha non pertanian di DIY mayoritas dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), usaha rintisan (start up) , hingga usaha menengah besar.

TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita Ginting
Kepala Seksi Neraca Perdagangan, BPS DIY, Kusriatmi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan  perkembangan sektor usaha non pertanian selama triwulan kedua 2020 terhadap periode yang sama 2019 mengalami kontraksi hingga 8,12 persen.

Kepala Seksi Neraca Perdagangan, BPS DIY, Kusriatmi mengatakan, sektor usaha non pertanian di DIY mayoritas dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), usaha rintisan (start up) , hingga usaha menengah besar.

"Penyumbang terbesar terjadinya koreksi pada bidang penyedia akomodasi makan dan minum sebesar -39,34 persen. Diikuti transportasi dan pergudangan senilai -34, 30 persen. Sedangkan, pertumbuhan  positif hanya didapatkan dari bidang informasi dan komunikasi yaitu 20,74 persen," jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Rabu (09/09/2020).

Baru Panen, Pertanian di Gunungkidul Belum Terdampak Kekeringan

Penurunan yang terjadi, lanjut Kusriatmi, pengaruh dari adanya gejolak ekonomi akibat pandemi.

Pelaku usaha sebagian besar terkendala pada pemasaran dan minat beli masyarakat yang rendah.

Alhasil, produktivitas pun ikut terganggu.

"Apalagi sektor wisata masih belum optimal yang menjadi satu di antara penunjang pergerakan usaha di wilayah Yogyakarta. Sehingga, imbasnya lapangan usaha mengalami kemunduran," jelasnya.

Menurunnya laju pertumbuhan usaha di DIY pun sejalan dengan menipisnya realisasi investasi khususnya sektor usaha rintisan atau start up.

Investasi di DIY Turun Selama Pandemi

Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIY mencatatkan realisasi investasi start up yang berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) mengalami penurunan. 

Pada tahun 2020 semester pertama capaian realisasi hanya sebesar Rp23,1 juta.

Padahal, pada periode yang sama tahun 2019 realisasi investasi mencapai Rp701 juta.

Hal serupa pun terjadi pada penanaman modal asing (PMA). 

Pada tahun 2020 semester pertama realisasi investasi hanya sebesar Rp709,2 juta. 

Padahal, pada tahun 2019 angka realiasi investasi mencapai nilai Rp101,9 miliar. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved