Breaking News:

Bisnis

Usaha Pembuatan Reklame Luar Ruang di Yogyakarta Sepi Peminat Saat Pandemi

Permintaan pembuatan reklame sudah mengalami penurunan sejak Maret 2020 lalu hingga sekarang.

TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita Ginting
Pelaku usaha pembuatan jasa reklame sedang mendesain logo dari suatu produk, pada Senin (07/09/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penggunaan reklame biasanya dilakukan oleh suatu perusahaan untuk memperkenalkan produknya ke khalayak ramai.

Media promosi yang dikenal dengan istilah iklan ini menjadi satu di antara penyedia jasa yang ikut terimbas pandemi.

Satu diantaranya, pemilik usaha pembuatan reklame Restu Boemi, di jalan Gayam, kota Yogyakarta, Ari (45) mengatakan, permintaan pembuatan reklame sudah mengalami penurunan sejak Maret 2020 lalu hingga sekarang.

"Permintaan reklame luar ruang menurun hingga 50 persen. Kelesuan ekonomi yang terjadi pada masa pandemi membuat kami kehilangan pelanggan karena pemakai jasa kami pun terimbas juga,"jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Senin (07/09/2020).

Terimbas Pandemi, Jasa Periklanan di DIY  Mengalami Penurunan Permintaan hingga 50 Persen

Padahal dalam kondisi normal, lanjut Ari, permintaan jasa reklame  bisa mencapai total 20 unit per bulannya.

Terdiri dari papan baliho, spanduk, neon box atau letter box.

Pelanggannya pun berasal dari banyak bidang usaha seperti makanan, fesyen, kecantikan, jasa perjalanan, properti hingga dinas pemerintahan.

"Hampir semua sektor menjadi pelanggan kami. Apalagi sektor properti yang setiap dua bulan sekali pasti ada pesanan. Namun, sejak pandemi permintaan menjadi tak pasti," tuturnya.

Untuk harga jasa reklame miliknya, dibanderol mulai harga ratusan ribu hingga jutaan.

Iklan AdSense Youtube Goyah, Trafik Meningkat Iklan Turun

Semakin, bagus material, desain, dan besarnya reklame maka harga pun semakin mahal.

Pembuatan satu reklame membutuhkan waktu untuk prosesnya maksimal sepuluh hari.

Untuk meminimalisir kerugian saat pandemi.

Ia hanya berproduksi ketika ada pesanan saja.

"Dulu, meskipun tidak ada pesanan material sudah dipotong sesuai ukuran sehingga ketika ada pelanggan tinggal menyesuaikan desain jasa. Sekarang, tidak berani karena  risiko ruginya cukup besar apalagi biayanya tidak murah untuk membuat satu reklame, jadi menunggu di pesan terlebih dahulu saja," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Nanda Sagita Ginting
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved