Update Corona di DI Yogyakarta

Terimbas Pandemi, Penjual Lukisan dan Pigura di Kota Yogyakarta Rasakan Penurunan Omzet

Menurunnya penjualan dikarenakan pembeli produknya kebanyakan berasal ibu rumah tangga dan kalangan mahasiswa.

TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita Ginting
Suasana penjualan lukisan dan pigura di Jalan Colombo, kota Yogyakarta, pada Kamis (27/08/2020). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Corona membuat goncangan begitu hebat pada sektor ekonomi.

Akibatnya, banyak sektor usaha yang lumpuh kehilangan pasar maupun pembeli.

Satu diantaranya, penjual lukisan dan pigura di jalan Colombo, kota Yogyakarta, Eka Prastiya (30) mengatakan, imbas pandemi membuat minat pelanggan pun menurun pada produk yang dijualnya.

"Penjualan belum optimal. Biasanya bisa terjual 4 sampai 5 lukisan dalam sehari. Kini, palingan hanya 1 lukisan saja, itu pun tak tentu," jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Kamis (27/08/2020).

Terimbas Pandemi, Omzet Pelaku Usaha Mebel Rumahan Alami Penurunan

Menurunnya penjualan, lanjut Eka, karena pembeli produknya kebanyakan berasal ibu rumah tangga dan kalangan mahasiswa.

Sekarang, lukisan bukan prioritas bagi pelanggannya.

"Dulu, ibu rumah tangga banyak yang beli lukisan untuk memperindah rumah. Sekarang, pikir dua kali untuk beli lukisan. Ditambah tak adanya mahasiswa, penjualan menjadi terhambat," ujarnya.

Berbagai jenis lukisan yang ia jual mulai dari gambar tumbuhan, pemandagangan alam, abstrak hingga kaligrafi.

Ia mengaku lukisan yang dijual bukankanlah buatannya sendiri melainkan didapatkan dari daerah Bandung, Jawa Barat.

"Lukisan saya ambil dari daerah Bandung. Sudah hampir 5 bulan tidak mengambil barang (lukisan) dari sana lagi. Karena, tak adanya pembeli habisnya yang ada saja," jelasnya.

Omzet Bisnis Usaha Laundry di Yogyakarta Turun Selama Covid-19

Adapun, harga lukisan yang dijualnya beragam mulai dari harga Rp250 ribu hingga Rp3 juta per unitnya tergantung ukuran dan kesulitan gambar.

Sementara itu, penjual piguran di lokasi yang sama, Wartiah (36) mengatakan, penjualannya belum stabil sejak Maret 2002 lalu.

"Belum stabil, soalnya pelanggan utama seperti orang nikahan dan mahasiswa pun ikut terimbas juga,"tuturnya.

Ia menambahkan, biasanya dalam kondisi normal untuk pigura bisa laku hingga 10 unit untuk ukuran sedang atau 4R.

Sedangkan, untuk ukuran yang 2 meter bisa laku paling tidak 2 unit per hari.

"Sebelum pandemi, ukuran 4R banyak yang cari terutama mahasiswa biasanya untuk piagam atau foto. Kalau yang ukuran besar biasanya untuk foto nikah. Sekarang, tak ada lagi yang mencari,"pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved