Kenapa Pertamina Merugi? Ini Tiga Faktor Pemicunya

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menjelaskan sepanjang paruh pertama tahun ini, Pertamina menghadapi tiga tantangan utam

Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNNEWS / IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi/ SPBU Coco, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat. dok Rabu (22/7/2015) 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - PT  Pertamina (Persero) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 11,13 triliun (kurs Rp 14.500/Dollar AS) pada semester I 2020.

Ilustrasi
Ilustrasi (Istimewa)

VP Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menjelaskan sepanjang paruh pertama tahun ini, Pertamina menghadapi tiga tantangan utama.

Pertama yaitu, penurunan harga minyak mentah dunia, kemudian penurunan konsumsi BBM di dalam negeri, serta pergerakan nilai tukar dollar AS yang berdampak pada rupiah sehingga terjadi selisih kurs yang cukup signifikan.

“Pandemi Covid-19, dampaknya sangat signifikan bagi Pertamina. Dengan penurunan demand, depresiasi rupiah, dan juga crude price yang berfluktuasi yang sangat tajam membuat kinerja keuangan kita sangat terdampak,” tuturnya, dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2020).

Ilustrasi
Ilustrasi (istimewa)

Menurut Fajriyah, penurunan permintaan terlihat pada konsumsi BBM secara nasional yang sampai Juni 2020 hanya sekitar 117.000 kilo liter (KL) per hari atau turun 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat 135.000 KL per hari.

Bahkan pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar terjadi penurunan demand mencapai 50-60 persen.

“Namun, Pertamina optimis sampai akhir tahun akan ada pergerakan positif sehingga diproyeksikan laba juga akan positif, mengingat perlahan harga minyak dunia sudah mulai naik dan juga konsumsi BBM baik industri maupun retail juga semakin meningkat," ujarnya.

Menurut Fajriyah, kendati perusahaan mengalami rugi bersih pada semester I 2020 dibandingan dengan periode yang sama tahun lalu, Pertamina tetap memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat agar pergerakan ekonomi nasional tetap terjaga.

"Meski demand turun, seluruh proses bisnis Pertamina berjalan dengan normal. SPBU tetap beroperasi, pendistribusian BBM dan LPG juga tetap terjaga baik, kami memprioritaskan ketersediaan energi bagi rakyat," katanya.

Sejalan dengan dilaksanakannya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), konsumsi BBM dalam negeri telah meningkat, dari sebelumnya diprediksikan penurunan 20 persen, kini penurunannya menjadi hanya sekitar 12 persen.

“Peningkatan konsumsi BBM yang signifikan menunjukkan ekonomi nasional yang terus tumbuh di berbagai sektor, karena itu Pertamina optimis kinerja akhir 2020 tetap akan positif,” ucap Fajriyah. (*)

===

Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul Ini 3 Alasan Pertamina Telan Kerugian hingga Rp 11,13 Triliun

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved