Breaking News:

Agenda Jogja Hari Ini

Bangkitkan Dunia Pariwisata, Pameran Tunggal Timbul Raharjo Bakal Hadir di Museum Sonobudoyo

Timbul akan menampilkan karya-karya yang dibuat pada tahun ini dengan jumlah sekitar 50 buah dan mengangkat tema transvestite art.

istimewa
Perupa Timbul Raharjo beserta sejumlah karyanya. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Perupa Timbul Raharjo bakal melangsungkan pameran tunggal bertajuk Me, Myself, & I #3.

Pameran yang sedianya digelar pada 25 Maret 2020 itu mesti ditunda akibat pandemi Covid-19 dan rencana dilangsungkan pada 30 Agustus-13 September 2020 mendatang di Museum Sonobudoyo.

Metode pameran pun mengalami perubahan dari yang semula bakal digelar langsung, namun kemudian dibuat kombinasi yang dapat dinikmati langsung di lokasi pameran dan juga disiarkan secara daring melalui sejumlah kanal sosial media. 

Timbul menjelaskan, dalam pameran itu dirinya akan menampilkan karya-karya yang dibuat pada tahun ini dengan jumlah sekitar 50 buah dan mengangkat tema transvestite art.

Museum Sonobudoyo Gelar Pameran Perak Rajata, Koleksi Tertua Sejak 1935

Tema itu sendiri bermakna luas yakni karya bisa digolongkan ke dalam dunia fine ART dan dunia plat AD. 

"Jadi seperti gender bahwa translate hati ini adalah artinya adalah banci atau waria sehingga kalau diterjemahkan secara harafiah dalam bahasa Indonesia waria atau Seni waria tetapi maksud dan tujuan bukan itu adalah seni yang mengasosiasikan gender di antara jadi antara lain a dan b ini yang kemudian kita bisa bermain ke dua hal yakni dunia perdagangan dan dunia seni itu bisa menyatu untuk menjadi satu bidang ilmu yang dapat masuk ke dunia ekonomi," katanya, Selasa (25/8/2020). 

Pameran ini diharapkan menjadi titik balik dalam memulihkan kembali dunia pariwisata di Yogyakarta akibat terdampak pandemi Covid-19.  

Pameran juga bakal mengikuti aturan protokol kesehatan yang dianjurkan dalam setiap kegiatan maupun ruang publik sesuai dengan adaptasi kebiasaan baru.

Mengenang Kebaya Masa Lampau Lewat Pameran Roepa Kebaya

Pameran ini akan menerapkan metode pelaksanaan pameran dengan sistem pengaturan kunjungan.

Dunia internet menjadi sarana penting dalam menikmati pameran ini, namun seni perlu pula untuk dilihat secara langsung sehingga rasa atau jiwa yang dipancarkan dari pameran itu dapat dengan baik menyatu dengan penikmat.

"Boleh jadi, pameran ini memunculkan prasangka negatif sebab dianggap tidak termasuk ranah fine art meskipun menggunakan cara-cara penciptaan yang sama. Konsep transvestite art menegaskan karya ini mempunyai peran ganda sebagai fine art yang sekaligus applied art berposisi di antara keduanya," ungkap Timbul. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved