Breaking News:

Advertorial

Panut Mulyawiyata Pasarkan Tas Rotan hingga Luar Negeri

Dengan bantuan permodalan dan usaha yang gigih dalam mengenalkan produknya di berbagai kesempatan, produknya kini telah dikenal hingga pasar luar nege

TRIBUNJOGJA.COM / Santo Ari
Aktivitas di Anggun Rotan, beralamat di jalan Imogiri KM 14, Bantul 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tangan Panut Mulyawiyata, rotan disulap menjadi kerajinan tas yang sangat cantik.

Dengan bantuan permodalan dan usaha yang gigih dalam mengenalkan produknya di berbagai kesempatan, produknya kini telah dikenal hingga pasar luar negeri.

Ia telah mengenal rotan sejak tahun 1990. Setelah berpindah-pindah pekerjaan, ia pun memutuskan untuk mendirikan usaha rotannya sendiri pada tahun 2001, bernama Anggun Rotan yang beralamat di jalan Imogiri KM 14, Bantul.

"Saya ingin usaha sendiri tapi khusus handicraft yakni tas rotan. Kenapa memilih tas rotan? Karena saya ingin mencari pasar baru. Tahun 2001 saya mempekerjakan lima orang, dan sekarang sudah berkembang menjadi 36 orang," ujarnya.

Selain itu, rotan dipilih karena memiliki banyak kelebihan, seperti bobot yang ringan, kuat, awet dan bisa dibentuk apa saja. Untuk desainnya, 70% adalah inovasinya sendiri dan 30% adalah permintaan pembeli.

Disperindag Kota Yogya Pantau 30 Pasar Tradisional dengan Rutinkan Penyemprotan Disinfektan

"Saya inovasi dari tas yang sudah, misal tas dari material lain, saya aplikasikan ke bahan rotan. Saya fokus ke tas rotan, karena banyak perempuan menyukai tas, dan perempuan tak hanya memiliki satu tas saja," ujarnya.

Lebih lanjut, Panut menceritakan bahwa dirinya membuka usahanya dengan modal sendiri dan kemudian dalam perkembangannya, ia pun dibantu pinjaman modal usaha dari PT Pertamina (Persero) dengan jasa administrasi sebesar tiga persen per tahun.

Di sana ia juga mendapatkan keuntungan lain, seperti pelatihan informasi teknologi, kewirausahaan dan pameran.

"Dari PT Pertamina saya di samping mendapat pinjaman uang, tapi ada keuntungan lainnya, yakni binaan pameran. Karena ikut pemeran binaan pertamina, semua gratis, dari stan pameran, akomodasi. Saya bisa ketemu langsung pembeli," jelasnya.

Padahal menurutnya, jika ia ingin mengikuti pameran secara mandiri, ia harus mengeluarkan uang setidaknya Rp 15-20 juta untuk sekali pameran di Jakarta.

Namun dengan program pameran gratis dari Pertamina, ia pun dapat memanfaatkan uangnya untuk keperluan produksi lainnya.

Dan dengan mengikuti pameran dari Pertamina, semakin banyak orang yang mengenal produknya.

PT Pertamina Gencarkan Pembangunan Pertashop

"Dari sekian banyak BUMN, Pertamina paling banyak mengadakan pameran, dan bunganya lebih ringan daripada pinjaman di bank umum," imbuhnya.

Kini tas rotan buatannya sudah terbang ke berbagai penjuru tanah air, seperti Bali, Jakarta, Balikpapan dan Medan. Permintaan paling banyak adalah di Bali. Ia pun sudah merambah pasar luar negeri, seperti Brasil, Iran, Jepang dan terakhir ke Spanyol dan Amerika.

Untuk harganya, berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu tergantung tingkat kesulitan dan aksesoris pelengkapnya. Di luar masa pandemi, ia dan pekerjanya mampu menghasilkan 1.500-2.000 tas per bulan. Namun karena Covid-19, produksi tasnya kini terhambat.

Ia pun berharap di pandemi ini, ada restrukturisasi pinjaman, dan program pemasaran dari media sosial yang diakomodasi pemerintah, maupun pertamina.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Santo Ari
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved