Bisnis
Libur Panjang, Pedagang Batik di Pasar Beringharjo Akui Terjadi Peningkatan Penjualan
Libur panjang pada Agustus 2020 ini, nampaknya berimbas pada naiknya penjualan baju batik di pasar Beringharjo.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Libur panjang pada Agustus 2020 ini nampaknya berimbas pada naiknya penjualan baju batik di pasar Beringharjo.
Seorang pedagang batik di pasar Beringharjo, Elok (55) mengatakan, selama libur panjang pada hari kemerdekaan dan disambung dengan libur Muharam memang memberikan dampak pada penjualan.
"Peningkatan lumayan hingga 30 persen bila dibandingkan dengan sebelumnya. Memang, penjualan masih belum optimal karena lakunya barang hanya pada akhir pekan atau hari libur saja," jelasnya kepada Tribunjogja.com, pada Kamis (20/08/2020).
Terhitung Maret hingga Juni 2020 lalu, penjualan di toko miliknya sangat merosot.
Karena, dalam jangka waktu tersebut dalam sehari palingan hanya mampu menjual 2 atau 3 baju saja.
Sehingga, momen libur panjang seperti ini sangat menberikan harapan pada penjualannya.
• Kulon Progo Bertambah 6 Kasus Kategori PTG
"Alhamdullilah, kemarin libur perayaan kemerdekaan satu hari bisa laku hingga 30 baju batik. Harapannya, libur Muharam pun bisa ramai pembeli" ucapnya.
Adapun, harga baju batik di tokonya dibanderol mulai harga Rp25 ribu hingga Rp70 ribu per baju.
Perbedaan harga baju, kata Elok, disesuaikan dengan bahan dan produksi.
"Kalau baju yang lengan panjang memang lebih mahal dibandingkan yang lengan pendek. Karena, bahan yang dipakai juga lebih banyak," ujarnya.
Adanya geliat penjualan pada libur panjang turut dirasakan Lukas (55).
Lukas mengatakan, selama libur panjang kemarin, penjualan baju batiknya mengalami kenaikan meskipun tak signifikan.
"Libur panjang kemarin penjualan naik sekitar 20 persen. Memang tak banyak, namun lumayan bila dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya," tuturnya.
• Unik, Warga Klaten Ini Sulap Lahan Jadi Kebun Bermotif Batik
Namun, sejak pandemi melanda wilayah Yogyakarta, dirinya tak lagi stok barang dagangan.
Kini, dirinya hanya menjual persediaan yang ada.
"Sudah tak berani stok ambil secukupnya saja. Kalau sudah habis terjual baru pesan kembali. Jadi, risiko merugi diminimalisir mengingat kondisi pasar yang tak selalu ramai," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pedagang-baju-batik-di-pasar-beringharjo-sedang-melayani-pembeli.jpg)