Breaking News:

Bolehkah Berpuasa Asyura Tanpa Melaksanakan Puasa Tasu'a pada Bulan Muharram? Begini Penjelasannya

Penjelasan dan hadis yang menunjukkan keinginan Rasul untuk melakukan puasa sebelum hari asyura di bulan Muharram

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Muhammad Fatoni
reuters.com
Ilustrasi berdoa 

Nah, untuk berhati-hati (ihtiyath), maka para ulama melaksanakan puasa di dua hari tersebut, bahkan ada juga para sahabat dan tabiin, sebagaimana disebutkan dalam Umdatul Qari dan Faidhul Qadhir, yang melakukan puasa hingga tiga hari, yakni tanggal 9,10, dan 11 Muharram, dengan alasan untuk berhati-hati dengan hadis pertama di atas.

Karena hadis di atas tidak disebutkan dengan jelas, apakah Rasul ingin mengganti puasa Asyura dari tanggal 10 ke tanggal 9, atau menambah puasanya menjadi dua hari.

KAPAN Puasa Tasua dan Puasa Asyura Dilakukan Pada 2020 Ini? Berikut Keistimewaan Muharram

Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah - Tiga Amalan yang Disunnahkan saat Menyambut Bulan Muharram

Untuk itu, para ulama melakukan puasa dua hari, bahkan tiga hari.

Dari tiga pendapat tersebut, Imam an-Nawawi sendiri cenderung lebih mengunggulkan pendapat yang pertama, yakni pendapat Imam as-Syafii yang menyebutkan kesunahan menambah satu hari sebelum tanggal 10 Muharram.

Pendapat Imam as-Syafii ini juga didukung dengan bukti bahwa Imam as-Syafii memperbolehkan kita hanya puasa di tanggal 10 Muharram (Asyura) saja, tanpa menambah di tanggal 9 atau 11. Akan tetapi lebih baik jika ditambah.

Hal ini disebutkan juga oleh Sayyid Muhammad Syatha’ dalam Ianatut Thalibin-nya:

وفي الأم لا بأس أن يفرده أي لا بأس أن يصوم العاشر وحده

Artinya: “Dalam kitab al-Umm (karangan Imam as-Syafii) dijelaskan bahwa tidak masalah jika hanya berpuasa satu hari saja, yakni tidak masalah jika berpuasa di tanggal 10 Muharram saja.”

Menanggapi perbedaan pendapat antar ulama tersebut, Ustaz Muhajir mengatakan, apabila ditemui perbedaan pendapat pada ahli ulana maka pilihlah yang menurutmu (umat muslim) yang paling dipercaya dan tidak memberatkan.

"Memang akan sering ditemui perbedaan pendapat antar ulama, maka untuk ambilah yang menurutmu tidak memberatkan dan paling dipercaya. Karena, urusan pahala dan dosa hanya Allah SWT yang mengetahui," pungkasnya. 

( tribunjogja.com/ nanda sagita )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved