Breaking News:

Hukum Menjual Daging Kurban Berdasarkan Syariat Islam

Bagaimanakah hukum menjual daging kurban bagi mereka yang mendapatkan bagian?

TRIBUNJOGJA.COM / Hasan Sakri
ILUSTRASI. Foto diambil di Masjid Margoyuwono, jalan Langesnastran Lor, Kota Yogyakarta, Minggu (11/8/2019). 

TRIBUNJOGJA.COM - Momen Iduladha menjadi perayaan yang paling dinanti oleh kaum muslimin seluruh dunia.

Pada perayaan ini, di mana umat islam yang mampu dan berkecukupan harta dianjurkan untuk ikut berkurban.

Nantinya, daging hewan yang disembelih tersebut akan dibagikan kepada masyarakat khususnya fakir dan miskin.

Lalu, bagaimanakah hukum menjual daging kurban bagi mereka yang mendapatkan bagian?

Berikut penjelasan, Ustaz Beny Susanto, Pengurus Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan, A'wan Syuriah PWNU DIY mengatakan, tak ada salahnya menjual daging kurban terutama bagi para fakir dan miskin yang telah mendapatkan jatah, karena itu sudah hak mereka.

Hukum Memotong Kuku dan Rambut Saat Berkurban, Boleh atau Dilarang?

"Daging yang mereka peroleh itu adalah hak dia. Terserah mau dia masak, dia sedekahkan, atau dia jual. Yang tidak boleh (menjual) adalah panitia kurban dan Sahibul kurban (orang yang berkuban)," jelas Ustaz Beny, kepada TRIBUNJOGJA.COM, pada Senin (27/07/2020).

Hal ini pun diceritakan dalam sebuah hadis yang mengisahkan seorang hamba sahaya Aisyah RA, Barirah.

Tatkala Barirah mendapatkan daging dari zakat seseorang, Barirah memasaknya dan menyuguhkannya kepada Rasulullah untuk dimakan.

Rasulullah SAW pun tak menolak untuk menyantap daging yang disajikan Barirah.

Sebagaimana diketahui, Rasulullah dilarang menerima harta dari zakat. Rasulullah hanya diperkenankan menerima sedekah dari umatnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved