Bisnis

Pengamat: Pertemuan via Daring Tidak Berdampak pada Ekonomi Daerah

Pengajar Ekonomi UAJY itu berpendapat, pertemuan daring yang selama ini digelar akibat pandemi Covid-19 tidak berdampak signifikan terhadap sejumlah s

Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Y Sri Susilo menyebut, Pemerintah Daerah (Pemda) maupun sejumlah instansi lain secara perlahan-lahan mesti mengubah kebiasaan pertemuan via daring menjadi pertemuan tatap muka secara terbatas.

Pengajar Ekonomi UAJY itu berpendapat, pertemuan daring yang selama ini digelar akibat pandemi Covid-19 tidak berdampak signifikan terhadap sejumlah sektor, sehingga perlu diubah jika Pemda ingin perekonomian kembali bangkit di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

"Mungkin bisa dibatasi pesertanya. Karena selain kurang efektif sektor-sektor lain juga tidak terpengaruh dari pertemuan daring itu. Kalau digelar secara terbatas kan bisa menggerakkan industri makan minum dan juga perhotelan," imbuhnya, Sabtu (25/7/2020).

Pakar Ilmu Politik Sebut Politik Uang Tetap Ada Selama Relasi Sosial Tak Setara

Di sisi lain, dia menjelaskan pembukaan tempat wisata juga perlu diperluas.

Hal ini bakal turut serta meningkatkan pendapatan para pelaku usaha di sektor itu dan akan berpengaruh pula pada banyak sektor lainnya.

"Bisa diperluas pada wisata yang terbuka, misalnya pantai dan destinasi lainnya," ungkapnya.

Dia juga setuju jika perguruan tinggi mengkaji ulang pemberlakuan kuliah daring.

Sebab, hal ini tidak bakal berdampak banyak jika Pemda ingin kembali menggerakkan perekonomian daerah.

Dia menyarankan agar sejumlah kampus menerapkan pembelajaran dengan dua metode yakni tatap muka dan juga daring.

Dengan ini, diharapkan bisa segera memulihkan ekonomi yang anjlok akibat pandemi Covid-19.

Survei Meleset, BI DIY Tekankan Konsumsi Gerakkan Ekonomi Daerah

"Usaha lain di sekitar kampus kan juga ikut tutup saat kampus kuliah daring. Jadi harapan kita meskipun kuliah nanti digelar tatap muka secara terbatas, sektor usaha kecil di sekitar kampus bisa hidup kembali," imbuhnya.

Sri Susilo mengatakan, Pemda juga mesti menaruh perhatian yang lebih terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terlebih pada mereka yang berlokasi di sekitar tempat wisata seperti Malioboro maupun alun-alun utara maupun selatan.

"Pelaku usaha ini biasanya bertumpu pada pendapatan harian yang akan langsung dibelanjakan hari itu juga, jadi pembukaan maupun insentif kepada mereka ini yang saya kira perlu dilakukan," imbuhnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved