Kesadaran Pelaku Usaha di DIY Saat Masa Transisi Masih Rendah, Satpol PP DIY Gencarkan Razia

Para pelaku usaha tersebut diberikan penekanan terhadap kedisiplinan protokol kesehatan untuk menuju kenormalan baru (new normal).

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI
MURAL LAWAN COVID. Warga mengenakan masker didepan mural tentang perlawanan terhadap virus Covid-19 di Ringinharjo, Bantul, DI yogyakarta, Selasa (23/6/2020). Dengan terus menerapkan protokol kesehatan kita telah mebantu tim medis yang berada digarda depan melawan pandemi virus Covid-19. 

Laporan Reporter Tribun Jogga, Miftahul Huda

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sampai saat ini sudah ada 900 toko, pasar, swalayan, serta hotel dan restoran di DIY yang telah dipantau oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di masa transisi kali ini.

Para pelaku usaha tersebut diberikan penekanan terhadap kedisiplinan protokol kesehatan untuk menuju kenormalan baru (new normal).

Kepala Satpol PP DIY, Noviar Rahmad, mengatakan masa tanggap darurat tahap tiga kali ini sama halnya dengan masa transisi menuju kenormalan baru.

Pihak Satpol PP sudah dua hari kemarin memantau dan memberikan peringatan terkait kepatuhan para pelaku usaha dalam menerapkan anjuran yang diberikan pemerintah.

"Ini merupakan supervisi. Sudah bukan lagi imbauan tegas kepada masyarakat. Kami saat ini sedang menyisir pasar, toko, serta hotel dan restoran, terkait pendisiplinan penerapan protokol kesehatan," katanya saat dihubungit Tribunjogja.com, Jumat (3/7/2020).

BREAKING NEWS : Satu Dokter Terpapar Covid-19, Puskesmas Banguntapan I Bantul Ditutup Sementara

Prosentase Angka Kesembuhan Covid-19 di DIY Kini Capai 84 Persen, Berikut Rinciannya

Ia melanjutkan, supervisi tersebut merupakan penilaian terhadap kelompok usaha baik itu di pasar, toko, swalayan, hotel dan restoran.

Ada lima kategori yang ditekankan selama ini yakini, kategori baik, baik sekali, cukup, cukup sekali, dan kurang.

Selama dua hari sejak tanggal 1 hingga 2 Juli kemarin, total sudah ada 900 kelompok usaha yang disasar.

Per harinya, lanjut Noviar, ada sepuluh grup yang menyebar untuk melakukan pemantauan.

"Sehari 450 kelompok usaha yang kami sasar. Rata-rata masuk dikategori cukup. Artinya perlu ditingkatkan lagi," imbuh Noviar.

Pedagang asongan di Yogyakarta lengkapi penggunaan masker dan faceshield saat berjualan.
Pedagang asongan di Yogyakarta lengkapi penggunaan masker dan faceshield saat berjualan. (Tribunjogja/Nanda Sagita Ginting)

Saat disinggung apakah ada peringatan keras bagi pelaku usaha yang tidak konsisten dalam pelaksanaan tersebut, Noviar mengatakan pihaknya hanya memberi peringatan ringan.

Pemilik toko atau pelaku usaha hanya mendapat surat teguran, dan isi surat tersebut terdapat imbauan dari penegak hukum tersebut.

"Hanya peringatan ringan. Kami hanya menuliskan, misalnya di Indomaret tidak ada westafel, ya kami tuliskan keterangan di situ. Setelah itu akan kami cek, agar catatan tersebut dipenuhi," ungkapnya.

Indikator penilaian tersebut, lanjutnya, mengacu pada ketaatan penggunaan masker, jaga jarak, ketersediaan westafel dan hand sanitizer, dan alat ukur suhu.

Satpol PP DIY Sebut Baru Ada 10 Hotel yang Layak Beroperasi Jelang Masa Kenormalan Baru

SPBU di Gondokusuman Yogyakarta Tak Layani Pembeli yang Tidak Mengenakan Masker

"Pantauan kami baru hotel saja yang menerapkan protokol dalam kategori baik. Tapi itu pun masih sedikit," tuturnya.

Saat disinggung mengenai berapa persen kesiapan masyarakat, serta pelaku usaha dalam menyambut kenormalan baru, Noviar belum dapat menyimpulkan.

"Masih minim, mungkin karena baru saja dimulai. Saya harap masyarakat segera menyesuaikan kebiasaan baru ini," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved