Breaking News:

Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Kehilangan Dosen Terbaik Ahli Tasawuf

Dr. H. Syaifan Nur, M. Ag. Dosen Ilmu Tasawuh, Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meninggal

Editor: Ikrob Didik Irawan
Ist
Dr. H. Syaifan Nur, M. Ag. Dosen Ilmu Tasawuh, Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

Mata kuliah yang barangkali mudah diwacanakan, namun tak mudah dihadirkan dalam tindakan. Namun dia melihat Pak Syaifan dapat menyatukan mata kuliah filsafat yang diampunya dalam pikiran dan laku hidupnya. Hal ini tampak dalam wajah yang selalu ceria, penuh senyum saat bertemu siapapun dan laku hidup penuh kesederhanaan.

Selepas mengajar di kelas, sebagaimana tradisi mahasiswa kala itu, selalu bersambung diskusi-diskusi informal lainnya. Dari situlah saling kenal, saling akrab terjalin. Mengetahui saya orang Madura, tanpa disangka Pak Syaifan langsung mengunakan bahasa Madura dan begitu seterusnya ketika bertemu dan menyapa saya.

Semula, kukira ia orang Madura, ternyata beliau kelahiran Aceh. Mengapa sangat pandai bahasa Madura? Ternyata, saat semasa mahasiswa di Jogja kala itu, satu kos dengan orang Madura. Dari sinilah, saya memahami, betapa Pak Syaifan sosok orang yang mau belajar kebudayaan etnis lainnya.

Hal yang unik dari Pak Syaifan adalah suaranya yang merdu dan kesukaannya pada musik, terutama lagu-lagu dangdut Bang Haji Rhoma Irama. Saat ada kolega dosen tasyakuran, lalu ada pertunjukan musik, Pak Syaifan menyumbangkan beberapa lagu, saya terperanjat mendengarkan merdu suaranya yang menurut saya sudah selevel artis profesional.

Ya, begitulah Pak Syaifan, merdu suara dan kepiawaianya menyanyikan lagu dangdut, hanya digunakannya untuk menghibur orang, dan bukan mengkomersilkannya. Barangkali ini bagian dari nilai-nila kesufian yang selalu menjadi pegangan hidupnya.

Walau telah berpulang, namun jejak akademiknya tampaknya akan abadi. Ia menekuni kajian tentang pemikiran Mulla Sadra, dan telah mempublikasikan karyanya itu dalam judul buku Filsafat Wujud Mulla Sadra. Dalam sampan pemikiran teosofi transenden, saya mengucapkan selamat bertemu Mulla Sadra dan bersamanya bertemu Allah SWT ya Pak Syaifan, demikian Abdul; Rozaki.

Dr. Syaifan Nur, M.Ag. meninggalkan seorang isteri Dra. Marfiyah dan dua orang anak. Salah seorang putrinya yang pertama sedang mengandung cucu beliau yang kabarnya kembar dua orang. Selamat jalan Pak Syaifan.

Kesan kebaikan yang selalu ditaburkan menjadi kebaikan yang terus dikenang oleh mahasiswa, kolega dan kawan. (*)

*Oleh: Dra. Weni Hidayati, Penyusun Bahan Informasi Dan Publikasi Subbag. Humas Publikasi Dokumentasi

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved