Breaking News:

Superball

Asprov PSSI DIY Menanti Kebijaksanaan PSSI Terkait Nasib Kompetisi Liga 3

Berbeda dengan Liga 1 dan Liga 2, nasib Liga 3 tak kunjung jelas dan gaungnya pun nyaris tak terdengar.

TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Kapten tim Sleman United, Aswandaru Bagas (kanan) saat mengawal pergerakan pemain Persekap pada leg pertama babak II putaran regional Jawa Liga 3 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (28/11/2019) silam. 

TRIBUNJOGJA.COM - Kompetisi Liga 1 dan Liga 2 saat ini terus digodok oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru terkait kemungkinannya bisa digelar lagi pada September dan Oktober 2020.

Namun nasib berbeda harus dialami Liga 3 yang nasibnya tak kunjung jelas, gaungnya pun nyaris tak terdengar.

Belum lagi wacana perubahan format kompetisi Liga 1 dan Liga 2 yang praktis akan langsung berdampak pada kompetisi di bawahnya.

Sebagaimana diketahui, rencananya Liga 1 dan Liga 2 akan digelar tanpa degradasi.

Tentu saja hal ini meresahkan klub-klub kontestan Liga 3.

PSSI Gelar Rapat dan Diskusi Khusus Bersama PT LIB Bahas Rencana Gulirkan Kembali Kompetisi

Padahal, menurut Wakil Ketua Asprov PSSI DIY, Wahyudi Kurniawan, kompetisi Liga 3 menerupakan cikal bakal serta sangat fundamental.

Namun justru tersingkirkan, lantaran yang digemborkan hanya Liga 1 dan Liga 2.

"Kalau untuk Liga 3 memang kondisinya saat ini sangat berat. Apalagi klub Liga 3 atau klub amatir ini rata-rata per orangan (pengusaha-red) yang ngopeni, orang-orang yang benar-benar gila sepak bola, dan selalu mengupayakan apapun demi sepak bola. Jadi tidak semua klub Liga 3 tercover APBD," kata Wahyudi Kurniawan kepada Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.

"Saya melihat dari berbagai aspek kehidupan terdampak Covid-19, padahal yang namanya pembinaan sepakbola khususnya Liga 3 ini tidak hanya butuh wong nekat. Tapi juga manajerial, menyiapkan pendanaan untuk mengikuti kompetisi," lanjutnya.

PSSI dan PT LIB Godok Tiga Opsi Soal Lanjutan Kompetisi

"Kami dari Asprov menunggu kebijaksanaan federasi," tambahnya.

Lebih lanjut, Wahyudi menilai situasi saat ini memang cukup pelik.

Sebab akan percuma bila suatu daerah menyelenggarakan kompetisi di level regional sementara tidak ada kompetisi di level nasional.

"Kalau menurut saya, untuk menyelenggarakan saja berat. Muara (kompetisi-red) mau kemana? Hanya sekadar having fun atau bagaimana?," kata Wahyudi.

"Bahkan klub yang tercover APBD pun pasti prioritasnya digeser untuk menanggulangi Covid-19. Ya kita harus sadari di situasi saat ini yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan. Kalau dipaksakan dan malah jadi kluster baru kan malah jadi repot," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved