Breaking News:

Internasional

Mengenal Boogaloo, Ekstremis Bersenjata yang Muncul di Tengah Demo di Amerika

Boogaloos disebut CNN inkarnasi ekstremisme yang muncul menyikapi situasi rumit.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
click2houston.com
Mengenal Boogaloo, Ekstremis Bersenjata yang Muncul di Tengah Demo di Amerika 

Terlepas dari keberadaan Teeter, dan dia mengatakan selusin atau lebih rekannya adalah pejabat federal, negara bagian dan lokal, ia mengajukan sedikit bukti yang bisa menunjukkan kelompok itu dimobilisasi kelompok ideologis.

Sebuah tinjauan cukup mendalam CNN tentang latar belakang orang-orang yang ditangkap selama tiga hari pertama protes dan kerusuhan di Minneapolis, tidak memunculkan kaitan yang jelas mereka  dengan organisasi-organisasi tertentu.

Beberapa polisi mengatakan mereka mencurigai banyak kerusuhan dan penjarahan dilakukan bukan oleh para ekstremis ideologis, tetapi kelompok-kelompok oportunis kriminal yang lebih kecil yang mencari untung dengan mencuri barang dagangan.

"Ini adalah penjahat sungguhan. Ini bukan demonstran," kata seorang pejabat tinggi Los Angeles Polce Department. Di Los Angeles, katanya, kelompok pencuri berkeliling menggunakan mobil, berkomunikasi di antara mereka menggunakan ponsel, mencari tempat-tempat untuk dijarah.

Namun, ada beberapa laporan yang terdokumentasi tentang individu-individu yang berafiliasi dengan kelompok kiri dan kanan spektrum ekstremis yang berbaur di tengah massa. Tapi mereka tidak terorganisir.

Di Nevada, jaksa federal minggu ini mendakwa tiga orang yang diduga mengidentifikasi diri dengan gerakan Boogaloo karena memiliki "bom molotov".

Mereka menerima tuduhan berkonspirasi "menyebabkan kehancuran selama protes di Las Vegas," menurut siaran pers dari Kantor Jaksa AS.

Stephen T "Kiwi" Parshall, Andrew Lynam, dan William L Loomis, yang semuanya memiliki pengalaman militer, ikut aksi protes pada 29 Mei untuk menghormati meninggalnya George Floyd di Las Vegas.

Parshall diduga mencoba mendorong kekerasan dengan memberi tahu para pemrotes, aksi damai tidak menghasilkan apa-apa.

Mantan Menhan AS Tuding Presiden Trump Sengaja Memecah Belah Amerika Serikat

Tuduhan itu disusun jaksa.Ketiga orang itu ditangkap dalam perjalanan ke demonstrasi kedua terkait Floyd pada hari berikutnya.

Mereka diduga membawa bom Molotov. Anggota Boogaloo yang membawa senjata juga muncul di protes George Floyd di Minneapolis, Salt Lake City, Dallas, Atlanta dan di tempat lain.

Berita ini ditulis The Washington Post.

Dikenal karena sebagian anggota suka memakai kemeja Hawaii, dan muncul  di aksi publik sembari membawa senjata berat, gerakan Boogaloo,  yang kadang-kadang disebut "Boogaloo Bois", sering dikaitkan aktivitas sayap kanan.

“Tapi itu jauh dari kelompok yang kohesif,” kata JJ MacNab, peneliti George Washington University yang mempelajari ekstremisme anti-pemerintah.

"Sementara ada kantong supremasi kulit putih Boogaloos, kelompok yang lebih muda dan lebih besar umumnya tidak," ulasnya di akun Twitternya baru-baru ini.

"Meskipun ada Boogalo yang mendukung polisi, kelompok yang lebih muda dan lebih besar membenci mereka. Sementara ada Boogalo yang ingin mendiskreditkan protes, ada Boogalo muda yang marah atas pembunuhan itu,” bebernya.

MacNab menambahkan, pembedaan pandangan itu tidak selalu atas dasar usia.

"Mereka berbagi jargon, pakaian, cinta senjata api, dan keinginan untuk menggunakan kekerasan untuk mendapatkan kekuatan, tetapi mereka tidak benar-benar berbagi tujuan bersama setelah kekuasaan tercapai," katanya.

Asal usul nama tersebut diduga melacak kembali ke sekuel film 1980-an tentang breakdance yang disebut "Breakin '2: Electric Boogaloo."

Istilah "boogaloo" dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi referensi online yang licik terhadap kerusuhan sosial dan perang saudara kedua yang diinginkan.

"Memo boogaloo" adalah "lelucon bagi sebagian orang," tetapi "bertindak sebagai meme kekerasan yang mengedarkan instruksi untuk kekerasan, pemberontakan virus untuk orang lain.

Tesis ini muncul di kertas kerja Network Contagion Research Institute, sebuah kelompok dari peneliti independen yang memantau informasi yang salah dan ucapan kebencian, bekerja sama dengan Universitas Rutgers.

"Disebut 'boogaloo,' ideologi yang diorganisasikan sendiri di komunitas media sosial ini, menawarkan puluhan ribu pengguna, menunjukkan pembagian kerja yang kompleks," kata laporan itu.

Mereka mengembangkan saluran yang dikreasi baik untuk berinovasi dan mendistribusikan propaganda kekerasan.

Trump Marah Disebut Sembunyi di Bunker Gedung Putih yang Konon Aman dari Serangan Nuklir

Ada tanda-tanda para anggota kelompok ini bergerak dari ruang online ke dunia nyata, terutama di berbagai aksi demonstrasi selama pembatasan fisik selama pandemic Covid-19.

Pada April lalu, seorang maniak Boogaloo ditangkap di Texas karena diduga berusaha membunuh petugas polisi, lewat ancamannya yang muncul di Facebook Live.

Gerakan ini dinilai memiliki daya tarik cukup besar dalam beberapa bulan terakhir.

Proyek Transparansi Tek dari kelompok pengawas nirlaba yang disebut Kampanye untuk Akuntabilitas merilis sebuah laporan menarik musim semi ini.

Mereka menyimpulkan lebih dari 60% dari 125 kelompok Boogaloo yang dapat diidentifikasi di Facebook telah bermunculan sejak Januari.

Jumlahnya makin banyak sejak diterapkan lockdown terkait Covid -19.

Teeter juga pernah ikut aksi protes mengecam lockdown Covid-19 di Amerika. 

Diperoleh fakta unik menarik yang menunjukkan betapa ruwetnya Boogaloo.

"Saya anggota komunitas LGBT," kata Teeter. Ia menggambarkan dirinya non-voting "meninggalkan anarkis ... Orang-orang menganggap dirinya anarkis kiri.

“Ada yang mengira saya kelompok Nazi, saya tidak (seperti itu)," kata Teeter.

James “Mad Dog” Mattis Bersuara, Kecam Trump Seret Militer AS ke Tengah Konflik

Di Minneapolis, Teeter mengatakan, ia dan yang lainnya dalam kelompoknya berdiri sebagai penjaga di luar toko-toko.

Tapi mereka tetap komit sebagai ungkapan solidaritas dengan komunitas kulit hitam yang menentang kebrutalan polisi.

"Kami sangat berhati-hati untuk memastikan orang-orang menyadari kami ada di pihak mereka. Kami di sini untuk membela mereka,” katanya.

“Begitu orang-orang menyadari kami berada di pihak mereka dan kami di sini untuk melindungi mereka, semua orang sangat senang,” lanjut Teeter.

Teeter mengatakan dia sekolah di rumah, tetapi tidak menyelesaikan kuliah meskipun ditawari beasiswa.

"Saya selalu bisa belajar sendiri," katanya.

"Kami memiliki internet. Anda dapat mempelajari apa pun yang ingin Anda pelajari secara gratis,” tegas Teeter.

Dia pernah berurusan dengan hukum.

Bahkan dipenjara 8 atau 9 kali karena aktivitasnya berkaitan senjata api.

Seorang administrator pengadilan kriminal New Hanover County di North Carolina mengatakan kepada CNN, Teeter kini memiliki kasus yang ditunda penuntutannya sejak Januari 2019.

Berniat Kerahkan Militer untuk Redam Protes, Trump Dinilai Menyalahgunakan Kekuasaan

Ia menembakkan senjata api di pinggiran kota.

Tapi Teeter mengaku kepada CNN, tuduhan itu tidak benar.

Ia saat itu tidak sengaja meletuskan senjata, ketika sedang membersihkannya.

Ditelisik di akun media sosialnya, popstingan Teeter agaknya sejalan dengan pandangan-pandangannya.

Banyak foto dirinya mengenakan jaket antipeluru atau berpartisipasi dalam protes menuntut pembatalan lockdown.

Ia juga memposting meme kritik kebrutalan polisi, ejekan ke Presiden Trump dan kandidat Presiden Demokrat Joe Biden.

Ia menglorifikasi gerakan Boogaloo dan gagasan perang sipil di masa mendatang.

Saat berada di Minneapolis, Teeter dan kawan-kawan kelompoknya tidak selalu menenteng senjata api.

Jika protes berlangsung damai, Teeter turut begabung di tengah kerumunan, ikut bernyanyi dan yel-yel.

Tapi umumnya, anggota Boogaloo sering membawa senjata mereka di sore dan malam hari, atau begitu keadaan mulai gelap. (Tribunjogja.com/CNN/ xna)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved